Transisi Net Zero Ubah Peran CFO Menjadi Penggerak Transformasi Bisnis

Transisi Net Zero Ubah Peran CFO Menjadi Penggerak Transformasi Bisnis

Ekonomi | sindonews | Sabtu, 27 Juni 2026 - 22:45
share

Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) menyelenggarakan Roundtable Dialog Eksklusif: Strategi CFO Menghadapi Era Net Zero – Menjaga Profitabilitas, Akses Pembiayaan, dan Daya Saing, Rabu (24/6). Kegiatan ini mempertemukan para Chief Financial Officer (CFO) dari perusahaan anggota dan jejaring IBCSD, bersama mitra strategis dari sektor keuangan dan pelaporan keberlanjutan, untuk mendiskusikan implikasi transisi menuju ekonomi rendah karbon terhadap strategi bisnis dan pembiayaan perusahaan.

Forum ini diselenggarakan di tengah meningkatnya tuntutan terhadap dunia usaha untuk memperkuat ketahanan bisnis melalui integrasi aspek keberlanjutan dalam pengambilan keputusan investasi, pengelolaan risiko, serta strategi pertumbuhan jangka panjang.

Perkembangan regulasi, meningkatnya ekspektasi investor, dan tuntutan dekarbonisasi rantai pasok global menjadikan peran CFO semakin strategis dalam memastikan agenda net zero dapat diterjemahkan menjadi keputusan investasi yang realistis, bankable, dan mampu memperkuat daya saing perusahaan.

Baca Juga: IBCSD Dorong Percepatan Investasi Iklim untuk Dekarbonisasi Industri melalui Forum BisnisDirektur Eksekutif IBCSD, Indah Budiani dalam sambutannya menekankan, bahwa peran CFO saat ini tidak lagi terbatas pada menjaga kinerja keuangan perusahaan, tetapi juga menjadi penggerak transformasi bisnis yang mampu menciptakan nilai jangka panjang.

“Di era transisi menuju ekonomi rendah karbon, CFO memegang peran penting dalam memastikan agenda keberlanjutan terintegrasi dalam strategi bisnis dan keputusan investasi perusahaan. Keberhasilan mengelola risiko dan peluang transisi akan sangat menentukan ketahanan dan daya saing perusahaan di masa depan,” ujar Indah Budiani.

Diskusi juga menyoroti bahwa peran CFO dalam agenda keberlanjutan terus berkembang seiring meningkatnya risiko dan tuntutan regulasi terkait ESG. Para pembicara sepakat bahwa ESG tidak lagi dapat dipandang sebagai isu kepatuhan semata, melainkan faktor strategis yang memengaruhi valuasi perusahaan, penilaian risiko, akses pembiayaan, hingga daya saing bisnis.

Dalam sesi diskusi, disampaikan bahwa risiko ESG kini telah menjadi salah satu risiko utama yang perlu diperhitungkan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu mulai mengintegrasikan pertimbangan risiko iklim ke dalam proses pengambilan keputusan keuangan, termasuk melalui pendekatan climate-adjusted valuation dan penguatan koordinasi antara fungsi keuangan dan keberlanjutan.

Baca Juga: Kolaborasi IBCSD dan BEI Dorong Akses Pembiayaan Berkelanjutan melalui Sustainable Bonds & Sukuk

Senior Vice President & Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia, Nuni Sutyoko menekankan, bahwa perkembangan regulasi membuat agenda net zero semakin konkret dan terukur. Menurutnya saat ini regulasi dan ekspektasi pasar semakin detail dan terukur, sehingga perusahaan dituntut untuk menunjukkan rencana, implementasi, dan progres yang nyata dalam mencapai target keberlanjutannya. "Di sinilah peran CFO menjadi sangat penting. Di perusahaan kami, kami mendorong kolaborasi yang lebih erat antara tim sustainability dan tim keuangan untuk menjembatani berbagai kesenjangan dan memastikan inisiatif keberlanjutan dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak yang lebih besar,” ujar Nuni Sutyoko.

Sebagai tindak lanjut, IBCSD akan merangkum berbagai masukan dan perspektif yang muncul dalam forum ini menjadi strategic insights dan rekomendasi awal untuk mendukung pengembangan platform dialog CFO yang berkelanjutan.

Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat peran pemimpin keuangan perusahaan dalam mendorong investasi yang lebih berkelanjutan, meningkatkan akses pembiayaan, serta memperkuat daya saing industri Indonesia di tengah percepatan transisi global menuju ekonomi rendah karbon.

Topik Menarik