Harga Emas Turun ke Level Terendah Lebih dari 7 Bulan Tertekan Dolar AS
IDXChannel - Harga emas dunia melemah ke level terendah lebih dari tujuh bulan pada Rabu (24/6/2026), dipicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga.
Harga emas juga diperdagangkan di bawah level psikologis penting USD4.000 per troy ons.
Harga emas spot turun tajam 2,71 persen menjadi USD3.999,50 per troy ons, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak November 2025.
Penguatan dolar AS membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Di sisi lain, pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga AS tahun ini setelah bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menunjukkan sikap lebih hawkish dalam pertemuan kebijakan terakhirnya.
Kekhawatiran terhadap tekanan inflasi akibat perang Iran juga turut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga.
"Pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga bisa terjadi paling cepat pada September akibat sikap hawkish The Fed. Dolar yang menguat ke level tertinggi dalam 13 bulan, ditambah ekspektasi inflasi yang lebih rendah, memberikan tekanan besar terhadap logam mulia," ujar pedagang logam independen Tai Wong, dikutip Reuters.
Menurut dia, harga emas masih mendapat dukungan di sekitar level USD3.900 karena pembelian oleh bank sentral masih berlanjut.
Namun, harga emas berpotensi memasuki periode konsolidasi yang panjang karena perdagangan emas saat ini mulai kurang diminati investor.
Emas menjadi kurang menarik bagi investor ketika suku bunga meningkat karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Harga emas spot yang sempat mencapai rekor tertinggi USD5.594,82 per ons pada akhir Januari, kini telah turun lebih dari USD1.600 per ons.
Analis ING memangkas proyeksi harga emas. Mereka kini memperkirakan harga emas rata-rata berada di USD4.300 per ons pada kuartal III-2026 dan USD4.600 per ons pada kuartal IV-2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya masing-masing sebesar USD4.850 dan USD5.000 per ons.
Rupiah Rp17.600 per Dolar AS, Airlangga Beberkan Alasan Tak Sama dengan Memori Kelam Krisis 1998
Investor juga tengah menantikan rilis data pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) Amerika Serikat pada Kamis. Data tersebut merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed.
Analis riset senior FXTM Lukman Otunuga mengatakan, sinyal yang lebih hawkish dari pejabat The Fed atau data ekonomi yang memperkuat alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi dapat meningkatkan risiko penurunan harga emas.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot turun 9,1 persen menjadi USD56,41 per ons setelah menyentuh level terendah sejak November 2025. (Aldo Fernando)









