Harga Emas Bangkit usai Trump Sebut Selat Hormuz Dibuka Pekan Ini
Harga emas dunia menguat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan Selat Hormuz berpotensi kembali dibuka pada Jumat pekan ini. Perkembangan tersebut dinilai dapat meredakan guncangan pasokan energi dan tekanan inflasi yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang pasar global.
"Saya melihat kesepakatan AS-Iran sebagai katalis positif bagi emas karena banyak faktor penghambat yang muncul akibat konflik kini mulai mereda," ujar Kepala Strategi Makro dan Pendapatan Tetap Global J.P. Morgan Private Bank, Alex Wolf dikutip dari Bloomberg, Selasa (17/6/2026).
Baca Juga:Harga Emas Antam Naik Rp18.000, Buyback Melonjak Rp46.000 per Gram
Harga emas spot diperdagangkan di atas USD4.310 per troy ons setelah melonjak 2,2 pada sesi sebelumnya. Kenaikan terjadi menyusul pengumuman kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik serta mencabut blokade maritim di kawasan Teluk.
Meski demikian, sejumlah sekutu AS menilai pemulihan arus energi dan perdagangan komoditas melalui Selat Hormuz tidak akan berlangsung cepat. Keraguan tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati meskipun harga minyak dunia terus melemah dan imbal hasil obligasi turun.
Menurut Wolf, konflik selama beberapa bulan terakhir telah memicu kenaikan harga energi, penguatan dolar AS, serta tingginya imbal hasil obligasi yang menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Selain itu, permintaan dari investor dan bank sentral di kawasan Timur Tengah juga sempat melemah akibat ketidakpastian geopolitik.
Seiring meredanya tekanan tersebut, faktor-faktor fundamental yang selama ini menopang harga emas diperkirakan kembali mendominasi pasar. Faktor tersebut antara lain pembelian emas oleh bank sentral, diversifikasi cadangan devisa dari dolar AS, serta permintaan yang tetap kuat dari Asia dan Timur Tengah.
Meski menguat dalam beberapa hari terakhir, harga emas masih tercatat turun sekitar 18 sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Selama konflik berlangsung, pergerakan emas cenderung berlawanan arah dengan harga minyak karena lonjakan biaya energi mendorong inflasi dan membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Baca Juga: Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Pelaku pasar kini menantikan serangkaian keputusan bank sentral pekan ini, termasuk pertemuan Federal Reserve yang untuk pertama kalinya dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh. Pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada akhir tahun, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan logam mulia ke depan.
Pada penutupan perdagangan di New York, harga emas spot naik 0,6 menjadi USD4.339,38 per troy ons. Harga perak menguat 0,4 menjadi USD70,30 per ons, sementara platinum dan paladium juga mencatat kenaikan. Di sisi lain, indeks dolar AS melemah 0,1.










