Rupiah Sentuh Rp17.600, Ini Penjelasan Menko Airlangga

Rupiah Sentuh Rp17.600, Ini Penjelasan Menko Airlangga

Ekonomi | okezone | Senin, 25 Mei 2026 - 12:36
share

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta masyarakat dan pelaku pasar untuk melihat pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) secara utuh berdasarkan konteks historis.

Pemerintah menegaskan bahwa kualitas ketahanan ekonomi nasional saat ini jauh lebih solid dan sehat dibandingkan dengan dua dekade sebelumnya, meskipun mata uang domestik tengah dibayangi tekanan eksternal.

Airlangga membandingkan data depresiasi mata uang Garuda serta laju inflasi dari beberapa periode pemerintahan terakhir guna meluruskan persepsi publik.

“Tadi Pak Misbakhun mengomentari 98, saya dukung. Saya hanya menyampaikan bahwa rupiah itu di tahun 2004-2014 terdepresiasinya 40 persen dalam 10 tahun. Dan itu dengan inflasi yang di tahun 2005 17 persen karena harga minyak naik ke 140 per barrel,” urai Airlangga dalam acara KNPED OJK di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Airlangga menjabarkan bahwa situasi tersebut berangsur membaik pada periode sepuluh tahun berikutnya.

Di tengah lanskap ekonomi global yang dinamis, bauran kebijakan moneter dan fiskal terbukti mampu memitigasi kejatuhan nilai tukar secara lebih terukur.

“Sedangkan di periode 2014-2024 itu rupiah depresiasinya 30,6 persen dan inflasinya 3 persen. Jadi beda nih kualitas dalam dua dekade terakhir dan per hari ini inflasi kita jaga di 2,4 dan depresiasi rupiah 5 persen. Jadi konteksnya saya sepakat sama Pak Misbakun harus dilihat secara konteks,” tegas Airlangga.

 

Sejalan dengan penjelasan Airlangga, sebelumnya Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun turut memberikan catatan krusial untuk meluruskan kesalahpahaman di masyarakat. Publik diimbau tidak menyamakan posisi Rupiah yang saat ini bertengger di kisaran Rp17.600 per Dolar AS dengan memori kelam krisis finansial Asia tahun 1998 silam.

Misbakhun memaparkan runtutan fakta matematis di balik volatilitas kurs guna meredam kecemasan psikologis di akar rumput yang seolah-olah mengisyaratkan Indonesia sedang dihantui krisis besar

“Rupiah kita benar berada di level 17.600 dan orang selalu membandingkan dengan krisis 98. Rupiah memang 98 itu pernah mencapai melewati 17.000, 800 bahkan mendekat 19.000. Tetapi rupiah saat itu berada di level tersebut berangkat dari angka 2.000-an,” ungkap Misbakhun.

Menurut dia, lonjakan kurs pada tahun 1998 merosot hingga ratusan persen secara seketika akibat runtuhnya sistem keuangan. Kondisi tersebut sangat kontras dengan pergerakan nilai tukar saat ini yang bergeser secara perlahan dan tetap berada dalam pemantauan ketat otoritas bank sentral.

Dulu 2.500, 2.400 ke 17.000 itu kan ratusan persen. Nah ini yang harus dipahamkan oleh kita semua kepada masyarakat. Jangan sampai masyarakat memahami oh rupiah ini, rupiah ini dan kemudian psikologis mereka seakan-akan ada krisis yang menghentui kita,” pungkas Misbakhun.

Topik Menarik