Kehadiran Wakil Ketua DPR di BEI Dinilai Jadi Sinyal Dukungan Negara di Tengah Pelemahan IHSG
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyambangi Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama dengan jajaran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), yakni Rosan Roeslani selaku CEO Danantara dan Dony Oskaria selaku COO Danantara pada Selasa, 19 Mei 2026. Kedatangan keduanya disambut oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dan jajaran direksi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam kunjungannya ke BEI, hasil diskusi menyoroti beberapa langkah konkret untuk menarik dan meyakinkan investor global agar tetap masuk ke bursa, sekaligus berupaya menjaga kepercayaan dan pertumbuhan investor ritel lokal. Langkah ini dinilai substansial dalam menghadapi tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Kedatangan petinggi negara dan jajaran pimpinan Danantara di gedung BEI merupakan sinyal dukungan bagi pasar modal Indonesia. GREAT Institute menilai kunjungan ini sebagai sinyal kehadiran negara dan penguatan koordinasi kelembagaan di tengah tekanan pasar. Penilaian ini sekaligus menafikan hingar-bingar yang menyatakan bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebabkan oleh kunjungan ini.
Baca Juga: Dasco dan Bos Danantara Sidak ke BEI saat IHSG Terpuruk, Ini Hasilnya
Kunjungan tersebut dimulai sekitar pukul 10:27 WIB, sementara tekanan di pasar saham sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi hari. IHSG dibuka di kisaran 6.599, sempat turun ke sekitar 6.565 pada menit-menit awal, sebelum sempat berbalik tipis ke zona hijau. Pada penutupan perdagangan, IHSG berakhir di level 6.370, turun 3,46 dari hari sebelumnya.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Ani Asriyah menegaskan, bahwa mengaitkan pelemahan IHSG dengan kedatangan Sufmi Dasco Ahmad adalah pembacaan yang keliru secara temporal maupun analitis.
“Pasar sudah berada dalam tekanan bahkan sebelum rombongan tiba di gedung BEI. Karena itu, tidak tepat jika pelemahan IHSG hari ini dikaitkan dengan kunjungan Pak Dasco. Sebaliknya, justru bisa dikatakan jika kedatangan rombongan Pak Dasco bertujuan untuk menjaga kepercayaan pada bursa,” ujar Ani, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga: Pelajaran Terbesar dari MSCI Rebalancing Mei 2026 dan Kejatuhan Pasar Modal IndonesiaMenurut GREAT Institute, ada sedikitnya tiga faktor utama yang sedang menekan pasar saham Indonesia. Pertama, efek rebalancing MSCI yang baru diumumkan pekan lalu. MSCI mencoret enam emiten Indonesia dari indeks global standar dan 13 emiten dari indeks small-cap dengan alasan konsentrasi kepemilikan yang tinggi dan persoalan transparansi.
FTSE Russell juga kemudian mengambil langkah serupa dengan mengumumkan penghapusan saham-saham Indonesia yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi, sambil tetap menunda full index re-ranking dan penambahan saham baru Indonesia setidaknya hingga September 2026. Sementara itu, Ani juga berpendapat bahwa saat ini indikator makro sedang mengalami pelemahan. “Kita sama-sama tahu bahwa rupiah sedang terdepresiasi dan menembus angka psikologis baru di level Rp17.700 per dollar pada perdagangan 19 Mei 2026. Belum lagi, pada hari ini, isu terkait ekspor satu pintu dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) menambah sentimen negatif bagi pasar modal Indonesia,” tambah Ani.
Ani menilai justru dalam situasi seperti ini, kehadiran Sufmi Dasco Ahmad bersama Danantara perlu diapresiasi karena menunjukkan bahwa negara tidak membiarkan pasar bergerak sendiri.
“Kehadiran pimpinan DPR, OJK, dan Danantara di BEI memberi pesan bahwa pemerintah dan otoritas tidak abai terhadap tekanan pasar. Dalam masa seperti ini, kehadiran simbolik tetap penting karena pasar bukan hanya bergerak oleh data, tetapi juga oleh persepsi terhadap koordinasi, kepemimpinan, dan keseriusan institusi,” kata Ani.
GREAT Institute juga mencatat bahwa pernyataan Sufmi Dasco Ahmad selepas kunjungan memperlihatkan arah yang konstruktif. Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan keyakinan bahwa bursa Indonesia ke depan akan semakin kuat, menyinggung pertumbuhan investor ritel, fundamental yang tetap baik, serta upaya penyempurnaan regulasi agar investor domestik merasa lebih nyaman.
Bagi GREAT Institute, pesan seperti ini penting untuk menjaga kepercayaan ketika pasar sedang diguncang sentimen jangka pendek. Dalam pandangan GREAT Institute, agenda kebijakan ke depan harus bergerak dalam dua lapis. Dalam jangka pendek, otoritas perlu menjaga stabilitas pasar dan nilai tukar secara aktif agar tekanan risk-off tidak berkembang menjadi spiral kepercayaan yang lebih mahal.
Dalam jangka menengah, pemerintah, OJK, dan BEI perlu mempercepat reformasi yang sudah mulai berjalan pasca-peringatan MSCI dan FTSE Russell, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan, penyesuaian aturan free float, serta penguatan kredibilitas pasar agar Indonesia tidak terus dibaca sebagai pasar dengan risiko investability yang tinggi. OJK sendiri menargetkan sekitar tiga perempat emiten bisa memenuhi aturan free float 15 persen pada tahun pertama implementasi reformasi.










