Wall Street Dibuka Koreksi, Pasar Cermati Konflik Iran dan Euforia AI
IDXChannel - Wall Street dibuka melemah tipis pada perdagangan Senin (11/5/2026) waktu setempat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal balasan Iran terkait upaya perdamaian kedua negara.
Di sisi lain, sentimen positif dari sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih menopang optimisme pasar saham teknologi.
Melansir Investing, indeks S&P 500 turun 0,1 persen ke level 7.393,84. Indeks Nasdaq Composite melemah 0,2 persen menjadi 26.204,61, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,1 persen ke posisi 49.540,01.
Meski bergerak negatif pada awal pekan, indeks S&P 500 dan Nasdaq sebelumnya berhasil mencetak rekor tertinggi baru pada Jumat lalu, memperpanjang reli pasar selama enam pekan berturut-turut.
Penguatan Wall Street dalam beberapa waktu terakhir ditopang harapan bahwa pemerintahan Trump tengah mencari jalan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan dengan Iran yang telah berlangsung lebih dari dua bulan dan mengganggu stabilitas ekonomi global.
Selain faktor geopolitik, investor juga terus mencermati besarnya belanja perusahaan teknologi untuk pembangunan pusat data guna mendukung perkembangan AI.
Senior Research Strategist Pepperstone, Michael Brown mengatakan, kombinasi optimisme geopolitik, pertumbuhan laba emiten, dan euforia AI masih menjadi penopang utama penguatan pasar saham AS.
“Selama faktor-faktor tersebut belum berubah, arah pergerakan pasar cenderung masih naik dan koreksi kemungkinan hanya bersifat terbatas,” ujar Brown dalam risetnya.
Sebagai informasi, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Iran menyampaikan proposal balasan atas rencana perdamaian yang diajukan AS. Teheran menuntut penghentian perang di seluruh front konflik serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Iran juga menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Jalur tersebut masih mengalami gangguan besar selama konflik berlangsung.
Laporan yang belum terverifikasi bahkan menyebut Iran telah mengerahkan kapal selam patroli jarak jauh di wilayah selat tersebut.
Menanggapi proposal Iran, Trump melalui media sosial menyatakan bahwa respons Teheran tidak dapat diterima.
Ketidakpastian diplomatik ini mendorong harga minyak kembali naik. Kontrak Brent menguat 2,1 persen menjadi USD103,37 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 1,7 persen ke level USD97,03 per barel.
Investor juga menanti data inflasi Amerika Serikat pekan ini guna mengukur dampak perang terhadap tekanan harga dan arah kebijakan suku bunga.
(DESI ANGRIANI)







