IHSG Diprediksi Bergerak Mixed Tertekan Rebalancing MSCI dan Royalti Tambang

IHSG Diprediksi Bergerak Mixed Tertekan Rebalancing MSCI dan Royalti Tambang

Ekonomi | sindonews | Senin, 11 Mei 2026 - 06:33
share

Mempertimbangkan keseluruhan lanskap sentimen yang terbentuk sepanjang pekan ini, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada pekan 11-13 Mei 2026 berpotensi mixed dan cenderung terbatas. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menerangkan, agenda rebalancing MSCI pada 12 Mei berpotensi memicu rotasi portofolio yang dapat menciptakan volatilitas jangka pendek pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Sementara bayang-bayang kebijakan kenaikan royalti mineral yang ditargetkan berlaku Juni 2026 disertai wacana bea ekspor dan windfall tax diperkirakan akan terus menekan saham-saham sektor pertambangan dan energi secara struktural.

Dengan investor asing yang masih mencatatkan net sell dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang meyakinkan, penguatan indeks akan sangat bergantung pada kekuatan aliran dana domestik serta kemampuan saham-saham big caps di luar sektor minerba untuk mengimbangi tekanan yang ada menjadikan selektivitas sektor sebagai kunci utama navigasi portofolio di pekan mendatang.

Baca Juga: 10 Saham Paling Boncos dalam IHSG Sepekan 4-8 Mei 2026, Siapa Terparah?

"Dalam kondisi ini investor disarankan untuk tetap selektif dengan pendekatan trading-oriented, memanfaatkan momentum pada sektor-sektor yang kuat, namun tetap disiplin dalam manajemen risiko, mengingat volatilitas pasar yang masih relatif tinggi serta potensi perubahan sentimen yang cepat," sarannya.Sebelumnya dalam sepekan perdagangan dan trading saham 4-8 Mei 2026 lalu, IHSG mencatatkan penguatan tipis sebesar +0,18 dengan pergerakan yang cenderung sideways di tengah tarik-menarik sentimen positif dan tekanan regulasi. IHSG berhasil menguat selama tiga hari berturut-turut didorong oleh meredanya tensi geopolitik AS vs Iran serta rilis data PDB Indonesia yang tumbuh 5,61 yoy, melampaui ekspektasi pasar dan memperkuat keyakinan terhadap ketahanan fundamental ekonomi domestik.

Namun, momentum tersebut terhenti pada Jumat (8/5) seiring munculnya sentimen negatif dari pengumuman usulan kenaikan tarif royalti mineral oleh Kementerian ESDM yang memicu aksi jual pada saham-saham sektor pertambangan dan energi dan memangkas sebagian besar gain yang telah terbentuk sepanjang pekan.

Di sisi investor asing, tekanan jual masih berlanjut dengan net sell sebesar Rp2,4 triliun di pasar reguler, mengindikasikan bahwa penguatan indeks lebih banyak ditopang oleh aliran dana domestik.

Sentimen Global dan Domestik dalam 3 Hari Perdagangan

Berbicara tentang potensi pergerakan market sepekan kedepan yang hanya akan berlangsung selama 3 hari perdagangan karena ada libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus (14-15 Mei 2026), Equity Analyst IPOT Hari Rachmansyah meyakini dari sisi perkembangan global, sejumlah dinamika geopolitik penting turut mewarnai sentimen pasar pekan depan.

Baca Juga: IHSG Sepekan Merayap Tipis 0,18, Kapitalisasi Pasar BEI Sentuh Rp12.406 Triliun"Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow yang berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya," jelasnya.

Ia menambahkan kekhawatiran terkait potensi wabah hantavirus tampak tidak terlalu mengganggu pasar data dari platform prediksi Kalshi menunjukkan probabilitas wabah hantavirus menjadi ancaman serius tahun ini hanya sebesar 21. Angka ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar belum menganggap isu ini sebagai risiko yang perlu diperhitungkan secara signifikan.

Di sisi lain, perhatian pasar global kini tertuju pada pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dimana isu perang Iran diperkirakan akan mendominasi agenda pembahasan.

"Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat," jelas Hari.

Sementara itu dari sisi makro domestik, terdapat sejumlah agenda dan perkembangan kebijakan yang perlu dicermati pelaku pasar dalam waktu dekat.“Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan,” jelasnya.

Dari sisi kebijakan, Kementerian ESDM telah menggelar public hearing pada 8 Mei 2026 terkait usulan perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak dan ini bukan sekadar wacana mengingat kebijakan tersebut ditargetkan mulai berlaku pada Juni 2026.

Dari seluruh komoditas yang terdampak, jelas Hari, emas mencatatkan kenaikan tarif paling signifikan secara persentase di batas bawah hingga +100, yang memberikan tekanan langsung di tengah harga emas global yang saat ini berada di level sangat tinggi, sementara timah menjadi komoditas yang paling terpukul secara keseluruhan karena kenaikan tarif terjadi di kedua ujung rentang sekaligus.

"Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi sub sektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek."

Topik Menarik