Krisis Energi Kian Nyata, Cadangan Minyak Dunia Terkuras hingga Level Terendah
Penutupan hampir total jalur pelayaran Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di Iran telah menguras cadangan minyak global pada kecepatan rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya. Situasi ini memicu krisis pasokan energi dunia, melonjakkan harga bahan bakar di Amerika Serikat (AS), hingga mengancam operasional industri penerbangan di Eropa menjelang musim panas.
"Eropa kemungkinan hanya memiliki cadangan bahan bakar jet untuk sekitar enam pekan," ujar Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol dikutip dari New York Times, Minggu (10/5/2026).
Baca Juga:Berhasil Lintasi Selat Hormuz, 1 Juta Barel Minyak Tiba di Korsel
Hal itu akibat terjadi tekanan akut pada stok avtur komersial yang diprediksi jatuh ke bawah ambang batas kritis pada Juni mendatang. Data Morgan Stanley menunjukkan, persediaan minyak global merosot sekitar 4,8 juta barel per hari sepanjang periode Maret hingga April 2026. Penurunan ini tercatat sebagai penyusutan kuartalan terdalam dalam sejarah IEA, yang memperparah kekhawatiran atas ketahanan energi di tengah dinamika geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada meroketnya harga bensin di AS yang melonjak hingga 50 sejak pecahnya konflik pada akhir Februari lalu. Berdasarkan data AAA, harga rata-rata nasional kini mencapai USD4,52 per galon, bahkan di wilayah tertentu seperti California, beban konsumen meningkat secara signifikan akibat terbatasnya stok musiman.Cadangan minyak mentah AS, termasuk Strategic Petroleum Reserve (SPR), terus menyusut selama empat pekan berturut-turut hingga mencapai level terendah sejak tahun 2005. Guna membendung dampak tersebut, Departemen Energi AS telah melepaskan hampir 80 juta barel cadangan minyak sebagai bagian dari upaya kolektif global bersama IEA untuk menstabilkan pasar.
Baca Juga:Mojtaba Perintahkan Militer Iran Lanjutkan Perang, 2 Drone Hantam UEA
Krisis energi juga mulai melumpuhkan sektor transportasi udara di Eropa, dengan hub Amsterdam-Rotterdam-Antwerpen mencatatkan penurunan stok bahan bakar hingga sepertiga. Maskapai besar seperti Lufthansa terpaksa membatalkan 20.000 jadwal penerbangan jarak pendek hingga Oktober mendatang demi menghemat puluhan ribu metrik ton bahan bakar jet.
Sementara, Ekonom Nouriel Roubini memperingatkan bahwa pasar masih cenderung meremehkan risiko jangka panjang dari konflik ini terhadap infrastruktur energi regional. Jika blokade Selat Hormuz terus bertahan, harga minyak dunia diperkirakan dapat melonjak hingga menembus angka USD200 per barel, yang berisiko menyeret ekonomi global ke dalam jurang stagflasi serupa di era 1970-an.










