Rupiah Naik Tipis ke Rp17.387 per Dolar AS, Sentimen Ini Jadi Penguat
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhirnya ditutup menguat pada akhir perdagangan, Rabu (6/5/2026) usai naik 36 poin atau sekitar 0,21 ke posisi Rp17.387 per dolar AS. Penguatan kurs rupiah juga terlihat pada data JISDOR BI, menjadi Rp17.405 per USD dari sebelumnya Rp17.425.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa sentimen datang dari global yaitu pasar merespon positif terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan kemungkinan kesepakatan damai dapat tercapai untuk mengakhiri perang dengan Iran. Walaupun belum ada reaksi langsung dari Teheran, di mana saat itu masih sangat pagi pada hari Rabu.
“Pada hari Selasa, Trump secara tak terduga mengatakan ia akan menghentikan sementara operasi untuk membantu mengawal kapal melalui Selat Hormuz, dengan alasan kemajuan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran, tanpa memberikan rincian tentang kesepakatan tersebut,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: 7 Jurus BI Kuatkan Rupiah usai Terkapar di Rp17.425, Pembelian Dolar Diperketat
Namun demikian, Trump mengatakan, Angkatan Laut AS akan melanjutkan blokade pelabuhan Iran. Selat Hormuz, yang biasanya membawa kargo setara dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia, telah paling terputus sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari."Kami telah sepakat bersama bahwa, sementara Blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, Proyek Kebebasan akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat untuk melihat apakah Perjanjian dapat diselesaikan dan ditandatangani," tulis Trump di media sosial.
Pengumuman Trump datang hanya beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberi pengarahan kepada wartawan tentang upaya yang diumumkan pada hari Minggu, untuk mengawal kapal tanker yang terdampar melalui selat tersebut.
Pada hari Senin, militer AS mengatakan telah menghancurkan beberapa kapal kecil Iran, serta rudal jelajah dan drone, saat memandu dua kapal keluar dari Teluk melalui selat tersebut.
Bahlil Ganti 19 Pejabat Kementerian ESDM
Baca Juga: Mata Uang RI Undervalue, Perry Warjiyo: Fundamental Ekonomi Kuat, Seharusnya Rupiah StabilDari sentimen domestik, Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan perekonomian Indonesia mulai menunjukkan percepatan pertumbuhan setelah mencatat kinerja positif pada kuartal I 2026.
Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 menjadi indikasi bahwa tren ekonomi nasional mulai bergerak ke arah yang lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya. Percepatan ini belum sepenuhnya dipahami oleh pelaku pasar, yang justru masih menunjukkan kekhawatiran dan cenderung menarik dana dari pasar modal.
Oleh karena itu, pemerintah akan menjaga momentum pertumbuhan ini pada kuartal berikutnya melalui berbagai kebijakan lanjutan. Koordinasi dengan Bank Indonesia juga terus diperkuat, khususnya dalam menjaga likuiditas sistem keuangan.
Selain itu pemerintah tengah menyiapkan paket stimulus tambahan untuk mendorong aktivitas ekonomi dalam waktu dekat. Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap akselerasi pertumbuhan ekonomi dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi aktivitas usaha serta kepercayaan pasar ke depan.
Namun banyak ekonom yang mempertanyakan hasil perhitungan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 sebesar 5,61. Salah satunya data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dikeluarkan Bank Indonesia pada Maret 2026 sebesar 122,9 basis poin atau turun dibandingkan Januari 2026 sebesar 127,0 basis poin.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.380-Rp17.420 per dolar AS.










