Inflasi AS Lebih Jinak, Wall Street Dibuka Menguat di Tengah Konflik Timur Tengah

Inflasi AS Lebih Jinak, Wall Street Dibuka Menguat di Tengah Konflik Timur Tengah

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 14 April 2026 - 22:14
share

IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Selasa (14/4/2026) waktu setempat.

Penguatan ini didorong oleh data inflasi produsen yang lebih rendah dari ekspektasi pasar, meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membayangi.

Melansir Investing, indeks S&P 500 naik 0,3 persen ke level 6.908,52. Sementara itu, NASDAQ Composite menguat 0,9 persen ke 23.385,28, dan Dow Jones Industrial Average naik tipis ke posisi 48.235,61.

Sentimen positif pasar dipicu oleh rilis data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) Amerika Serikat untuk Maret yang berada di bawah perkiraan. 

Data dari US Bureau of Labor Statistics menunjukkan, PPI naik 0,5 persen secara bulanan dan 4 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar masing-masing sebesar 1,1 persen dan 4,6 persen.

Sementara itu, inflasi inti (core PPI) tercatat naik 0,1 persen secara bulanan dan 3,8 persen secara tahunan. Meski kenaikan tahunan merupakan yang terbesar sejak Februari 2023, tekanan utama masih berasal dari lonjakan harga energi, yang meningkat 8,5 persen secara bulanan.

Data ini mencerminkan pola serupa dengan inflasi konsumen (CPI) yang dirilis sebelumnya, di mana lonjakan harga minyak akibat konflik Iran mendorong inflasi utama, namun belum sepenuhnya merembet ke inflasi inti.

Mantan CEO PIMCO, Mohamed El-Erian menilai data tersebut memberikan kelegaan bagi pasar dan pembuat kebijakan.

“Inflasi PPI bulanan AS hanya 0,5 persen pada Maret, jauh di bawah konsensus. Ini menunjukkan ketahanan ekonomi AS di tengah tekanan global,” tulisnya.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus berkembang, meskipun terdapat sinyal komunikasi lanjutan antara kedua pihak untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen.

Laporan juga menyebutkan bahwa Pakistan berperan sebagai mediator dan berencana menjadi tuan rumah putaran lanjutan perundingan, setelah pertemuan awal digelar di Islamabad akhir pekan lalu.

Selain itu, pembicaraan damai juga akan berlangsung antara Israel dan Lebanon di Washington, yang turut melibatkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Meski demikian, dampak konflik terhadap ekonomi global mulai terlihat. International Monetary Fund memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi 3,1 persen pada tahun ini dan 3,2 persen pada 2027.

IMF menyebut, setelah menghadapi berbagai tekanan seperti hambatan perdagangan dan ketidakpastian global, aktivitas ekonomi kini diuji oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik