Harga CPO Jatuh 6 Persen, Koreksi Mingguan Pertama dalam 6 Pekan
IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (CPO) merosot pada Jumat (10/4/2026), tertekan kekhawatiran bahwa kenaikan produksi dapat melampaui permintaan di tengah perang Timur Tengah yang masih berlangsung.
Meski demikian, data resmi menunjukkan persediaan turun ke level terendah dalam tujuh bulan pada Maret.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup anjlok 2,26 persen menjadi 4.538 ringgit Malaysia per ton pada Jumat.
Sepanjang pekan ini, kontrak tersebut telah melemah sekitar 6 persen dan mencatat penurunan mingguan pertama dalam enam pekan.
Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan stok minyak sawit Malaysia turun bulan lalu, sementara produksi meningkat 7,21 persen dan ekspor melonjak 40,69 persen.
Direktur broker Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengatakan memasuki puncak musim produksi pada April, Mei, dan Juni, pelemahan permintaan akibat perang Timur Tengah serta kenaikan biaya pengiriman akan mulai tercermin pada data ekspor periode 1-10 April.
“Jika ekspor gagal mengimbangi kenaikan produksi musiman, stok akhir tidak terhindarkan akan kembali meningkat dan membatasi pemulihan harga dalam jangka pendek. Ekspor harus tetap kuat, tetapi melihat kondisi saat ini, hal tersebut akan sulit,” ujarnya, dikutip Reuters.
Lembaga pemantau kargo diperkirakan merilis estimasi ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-10 April pada hari yang sama.
Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,61 persen, sementara kontrak minyak sawitnya bertambah 1,12 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade menguat tipis 0,01 persen.
Minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing dalam pangsa pasar minyak nabati global.
Sementara itu, harga minyak mentah naik dipicu kekhawatiran baru terhadap pasokan dari Arab Saudi serta lalu lintas tanker di Selat Hormuz yang masih terbatas. Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Di India, sebagai pembeli terbesar, ekspektasi restocking menjelang peningkatan permintaan musiman menguat setelah impor turun 19 persen ke level terendah dalam tiga bulan pada Maret.
Sementara itu, Indonesia sebagai produsen terbesar dunia telah menerbitkan aturan anyar yang menguraikan jadwal pelaksanaan mandat biofuel nasional. (Aldo Fernando)










