Indonesia Terapkan B50 Mulai Juli, Pasokan Bahan Baku Dinilai Jadi Tantangan
IDXChannel – Rencana pemerintah Indonesia menaikkan mandat campuran biodiesel menjadi 50 persen (B50) mulai 1 Juli dinilai masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait ketersediaan bahan baku dan biaya produksi yang berpotensi meningkat.
Sumber pasar yang dikutip Oil Price Information Service (OPIS), Kamis (9/4/2026), menyebutkan, persoalan ketersediaan bahan baku belum sepenuhnya teratasi meskipun pemerintah berencana meningkatkan bauran biodiesel secara bertahap.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan kebijakan B50 diambil setelah uji coba selama sekitar enam bulan menunjukkan hasil positif pada berbagai kendaraan dan alat berat.
Menurutnya, peningkatan penggunaan biodiesel dapat mendukung industri minyak sawit domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar yang rentan terhadap lonjakan harga dan gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Namun demikian, sumber pasar menilai produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) sebagai bahan baku utama biodiesel tidak diperkirakan meningkat signifikan tahun ini.
Kondisi ini berpotensi membuat pemerintah menekan ekspor CPO agar kebutuhan domestik tetap terpenuhi seiring meningkatnya produksi biodiesel.
Selain CPO, produsen biodiesel juga menghadapi tantangan dalam memperoleh metanol, bahan baku penting lainnya.
Konflik di Timur Tengah, khususnya di kawasan pemasok utama seperti Iran dan Arab Saudi, telah mengganggu pengiriman metanol ke Asia Tenggara, sehingga mendorong kenaikan harga dan meningkatkan biaya produksi biodiesel.
Dalam praktiknya, produsen biodiesel di Indonesia biasanya menandatangani kontrak tahunan dengan pemerintah yang menetapkan volume serapan biodiesel berdasarkan formula harga tertentu, yakni harga referensi CPO bulanan ditambah komponen tetap (alpha).
Komponen alpha ini disesuaikan setiap tahun dengan memperhitungkan biaya produksi, termasuk metanol, katalis, dan utilitas.
Sumber pasar menilai lonjakan biaya akibat konflik geopolitik dapat mendorong produsen biodiesel untuk meminta penyesuaian formula harga kepada pemerintah agar margin usaha tetap terjaga.
Curhat Purbaya Dimaki-maki Warganet di TikTok Gara-Gara Rupiah Anjlok Rp17.000 per Dolar AS
Di sisi lain, penggunaan biodiesel saat ini dinilai relatif menarik karena tingginya harga solar (gasoil) telah mempersempit selisih harga dengan biodiesel.
Namun, jika konflik mereda dan harga gasoil turun, campuran biodiesel yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya bagi pengguna, sehingga pemerintah kemungkinan perlu menambah subsidi untuk menjaga daya saing harga. (Aldo Fernando)










