Wall Street Dibuka Merah, Inflasi Produsen dan Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Pasar
IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Rabu (18/3/2026) waktu setempat.
Pasar tertekan oleh data inflasi produsen yang lebih tinggi dari perkiraan serta kekhawatiran dampak lonjakan harga minyak di tengah konflik Timur Tengah.
Melansir Investing, indeks acuan S&P 500 turun 0,3 persen ke level 6.697,38. Indeks Nasdaq Composite melemah 0,3 persen ke 22.407,53, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,4 persen ke 46.815,02.
Sentimen negatif dipicu oleh data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan kenaikan lebih tinggi dari ekspektasi.
Indeks harga produsen (PPI) untuk permintaan akhir tercatat naik 0,7 persen secara bulanan pada Februari, lebih tinggi dibandingkan 0,5 persen pada Januari dan melampaui proyeksi ekonom sebesar 0,3 persen. Kenaikan ini terutama didorong oleh lonjakan biaya jasa.
Secara tahunan, PPI meningkat menjadi 3,4 persen, lebih tinggi dari ekspektasi yang memperkirakan tetap di 2,9 persen.
Beberapa komponen PPI turut memengaruhi indeks inflasi konsumsi personal atau Personal Consumption Expenditures price index (PCE), yang menjadi acuan utama bank sentral AS.
Inflasi inti PCE diperkirakan berada di level 3,1 persen secara tahunan pada Februari, masih jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2 persen.
Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga dari Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan diumumkan hari ini.
Bank sentral diperkirakan, menahan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen di tengah ketidakpastian dampak inflasi akibat konflik Iran serta potensi pelemahan pasar tenaga kerja.
Di sisi komoditas, harga minyak mentah jenis Brent crude oil naik 2,4 persen ke USD105,88 per barel. Meski sempat terkoreksi di sesi Asia setelah adanya kesepakatan antara Irak dan Kurdi untuk melanjutkan ekspor minyak melalui pelabuhan Ceyhan di Turki, harga minyak tetap bertahan di atas USD100 per barel seiring konflik yang belum mereda.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Strait of Hormuz, terus menjadi perhatian pasar. Jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia itu masih dibayangi ancaman serangan, sehingga meningkatkan risiko gangguan pasokan global.
(DESI ANGRIANI)








