Dukung Imbauan Prabowo Subianto untuk Hemat BBM, Guru Besar Unand:Konsumsi Sewajarnya Saja

Dukung Imbauan Prabowo Subianto untuk Hemat BBM, Guru Besar Unand:Konsumsi Sewajarnya Saja

Ekonomi | sindonews | Selasa, 17 Maret 2026 - 22:39
share

Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Andalas, Prof. Harif Amali Rivai, memberikan dukungannya terhadap imbauan Presiden RI Prabowo Subianto agar seluruh lapisan masyarakat bisa menghemat konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Ia juga mengimbau masyarakat tidak menimbun BBM, terutama menyambut momentum Lebaran serta terjadinya gejolak ekonomi global yang terjadi di Timur Tengah.

“Saya sepakat dengan ajakan Presiden untuk efisien dan menghemat BBM. Efisiensi BBM ini menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan pada penggunaan BBM, misal dengan work from home (WFH) yang mengurangi mobilitas. Ini merupakan solusi jangka pendek,” kata Harif saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (14/03/2026).

Harif mengatakan terjadinya perang Iran versus Israel-Amerika Serikat (AS) telah membawa dampak secara global, khususnya terhadap ketersediaan suplai energi. Ia menilai situasi geopolitik itu turut berdampak terhadap kondisi perekonomian Indonesia. “Untuk itu sebaiknya masyarakat dapat mengonsumsi BBM sewajarnya saja,” ujarnya.

Baca Juga : Hemat BBM, Indonesia Kaji Penerapan WFA Imbas Gangguan Pasokan

Harif menambahkan efisiensi dapat juga dilakukan dalam kondisi normal dalam rangka mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan energi. Namun demikian, dia melanjutkan, penerapan efisiensi dalam kondisi yang serba ketidakpastian tentunya akan memberikan manfaat yang lebih banyak.Dalam kondisi seperti sekarang, kata Harif, bila ada masyarakat yang menumpuk stok BBM tentunya dapat mengganggu kebutuhan masyarakat lain serta berpotensi menimbulkan kepanikan.

“Dengan demikian masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi BBM secara tidak wajar. Kondisi itu justru dapat memberikan dampak tekanan psikologis dan dampak ikutan masyarakat bersama-sama melakukan penimbunan,” katanya.

Harif menilai psikologis masyarakat terhadap ketersediaan BBM ini memang terganggu menyusul terjadinya pro dan kontra pasokan BBM yang dikabarkan hanya cukup selama 20 hari. Ia menuturkan informasi yang beredar di berbagai media sehubungan dengan stok nasional 20-30 hari disebabkan karena keterbatasan tempat penyimpanan dengan konsumsi yang tinggi karena populasi yang padat.

Baca Juga : Buntut Perang Iran vs AS - Israel, Puluhan SPBU di Australia Kehabisan BBM“Ini bukan berarti dalam jangka waktu akan habis, namun setiap terjadi penurunan stok dalam jangka waktu tertentu maka pemerintah dan Pertamina mengisi kembali persediaan tersebut,” ujar Harif.

Harif berharap pemerintah Indonesia tetap menjaga situasi kondusif secara berkelanjutan. Caranya, kata dia, dengan memastikan tersedianya jaminan bahwa stok BBM nasional berada dalam level yang aman untuk jangka pendek, terutama menjelang Idul Fitri 2026. Ia juga menginginkan konflik di Timur Tengah yang berujung blokade Selat Hormuz tidak berkepanjangan. “Harapannya semoga perekonomian global, terutama untuk rantai pasok BBM, bisa kembali normal,” katanya.

Topik Menarik