Beda dengan Purbaya, Bahlil Pastikan Harga BBM Pertalite Tak Naik meski Minyak Dunia Tembus USD100

Beda dengan Purbaya, Bahlil Pastikan Harga BBM Pertalite Tak Naik meski Minyak Dunia Tembus USD100

Ekonomi | okezone | Senin, 9 Maret 2026 - 13:23
share

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak akan naik meski saat ini harga minyak dunia sudah tembus USD100 per barel. Harga minyak melebihi asumsi makro di APBN yang dipatok USD70 per barel. 

Pernyataan ini berbanding terbalik dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang membuka opsi menaikkan harga BBM subsidi jika harga minyak dunia mencapai USD92 per barel.

"Tapi sekali lagi saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana menyangkut dengan harga, karena sampai dengan hari raya ini insyaallah enggak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi," kata Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Sementara itu, Bahlil mengatakan, ketersediaan stok BBM nasional tidak ada masalah meski sampai pada 21 hari. Justru yang perlu menjadi perhatian serius adalah dampak peningkatan harga yang sudah melampaui asumsi makro APBN. Kondisi ini praktis mengancam anggaran subsidi yang nembengkak jika harus menutup kekurangan lebih besar. 

"Problem kita sekarang bukan stok, stok tidak ada masalah, sudah ada semua. Kita itu sekarang tinggal di harga. Nah kita sekarang sedang meng- exercise untuk melakukan langkah yang komprehensif," sambungnya. 
 
Dia mengatakan, kenaikan harga minyak itu merupakan dampak dari peningkatan eskalasi yang terjadi antara Amerika dan Iran hingga menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Selat ini menjadi jalur perdagangan energi global dengan pangsa pasar hingga 20 persen. 

"Memang kalau kita melihat, posisi harga minyak dunia sekarang sudah melampaui USD100 dolar per barel. Inilah yang terjadi di global akibat dampak dari perang Iran melawan Israel dan Amerika," ujarnya.

 

Sekadar informasi, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 13,53 persen ke level USD103,2 per barel pada perdagangan Senin. Sementara untuk minyak acuan global Brent mengalami penguatan 16,19 persen ke level USD107,7 per barel. 

Sebelumnya, Pemerintah mulai mempertimbangkan opsi penyesuaian harga BBM bersubsidi sebagai langkah antisipasi terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi global yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah dikhawatirkan akan memperlebar defisit APBN melampaui batas aman yang ditetapkan undang-undang.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyusun simulasi dampak fluktuasi harga minyak terhadap postur fiskal nasional. Jika harga minyak mentah mencapai angka rata-rata USD92 per barel, tekanan terhadap defisit anggaran akan menjadi sangat besar.

“Kalau harga minyak naik ke USD92 per barel apa dampaknya ke defisit? Kalau tidak melakukan apa-apa defisit kita naik ke 3,6 sampai 3,7 persen dari PDB,” kata Purbaya dalam Media Briefing dan Buka Puasa Bersama Menteri Keuangan, Jumat (6/3/2026).

Menurut Purbaya, pemerintah saat ini sedang berupaya keras agar defisit anggaran tetap terjaga di bawah ambang batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). 

Meski realokasi belanja menjadi prioritas awal, Purbaya mengakui bahwa kenaikan harga BBM tetap menjadi opsi terakhir jika ruang fiskal sudah sangat terbatas.

“Kalau memang anggarannya tidak kuat sekali, tidak ada jalan lain, ya kita share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM kalau memang,” tutur Purbaya.
 

Topik Menarik