Kebangkrutan Massal Guncang Jerman, Angkanya Tembus Rekor 2.108

Kebangkrutan Massal Guncang Jerman, Angkanya Tembus Rekor 2.108

Ekonomi | sindonews | Kamis, 5 Februari 2026 - 11:22
share

Jumlah kebangkrutan di Jerman mengalami peningkatan sangat tinggi dan terus bertambah, seperti diungkapkan oleh Chamber of Commerce and Industry (DIHK). Lantaran hal ini, mereka mendesak Berlin agar mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki situasi dan menanggulangi tingginya harga energi.

Pernyataan ini muncul saat kantor statistik pemerintah menerbitkan angka terbaru tentang permintaan kebangkrutan yang berasal dari Oktober 2025. Menurut data mereka, jumlah permintaan perusahaan meningkat hampir 5 dibandingkan tahun sebelumnya dan mencapai 2.108 pada saat itu.

Baca Juga: Jerman PHK 100 Ribu Lebih Pekerja Sektor Industri, Apa yang Terjadi?

Mahalnya harga energi, birokrasi, dan pajak disebut menjadi faktor utama di balik meningkatnya pengajuan kebangkrutan. Sektor transportasi dan penyimpanan menjadi yang paling terdampak, menurut data kantor statistik.

Ditambahkan bahwa sektor perhotelan dan konstruksi juga menderita tak kalah hebat. Jumlah yang mengajukan kebangkrutan meningkat 7,6 secara tahunan dan mencapai 6.709, menurut data kantor tersebut.

Baca Juga: Kebangkrutan Massal Mengancam Sektor Konstruksi Rusia, Apa yang Terjadi?

Menurut DIHK, negara ini mengalami jumlah kasus kebangkrutan tertinggi dalam 11 tahun. Asosiasi tersebut mengatakan, bahwa mereka memperkirakan total jumlah kebangkrutan perusahaan akan melampaui 23.000 pada tahun 2025, ketika harga energi, birokrasi, dan pajak sebagai faktor utama di balik tren ini.

DIHK kemudian menuding pemerintah tidak melakukan langkah yang cukup efektif, dalam menangani masalah tersebut. “Tidak kekurangan makalah politik dengan proposal yang baik – banyak yang ditulis, tetapi terlalu sedikit yang dilaksanakan,” katanya dalam sebuah pernyataan resminya seperti dilansir RT.

Ekonomi Jerman mengalami pukulan besar ketika negara itu ikut serta dalam sanksi Barat terhadap Rusia pada tahun 2022. Sebelum eskalasi konflik Ukraina, Jerman mengandalkan Rusia untuk memenuhi 55 kebutuhan gas alamnya.

Operasional raksasa minyak Rusia, Rosneft juga menyumbang sekitar 12 dari total kapasitas pengolahan minyak nasional, menurut Bloomberg. Namun keputusan untuk menghentikan impor energi murah dari Rusia berperan besar dalam perlambatan ekonomi Jerman.

Tercatat ekonomi Jerman menyusut pada tahun 2023 dan 2024 – penurunan tahunan berturut-turut pertama sejak awal 2000-an. Bild melaporkan pada Oktober 2025 bahwa harga listrik dan gas naik sebesar 14 dan 74 untuk masing-masing dari perioide 2022 sampai 2025.

Topik Menarik