Harga Bensin di AS Melonjak USD3 per Galon, Pertama Kali Sejak November 2025

Harga Bensin di AS Melonjak USD3 per Galon, Pertama Kali Sejak November 2025

Ekonomi | okezone | Selasa, 3 Maret 2026 - 14:02
share

JAKARTA - Harga bensin di Amerika Serikat (AS) melonjak di tengah konflik AS dan Israel dengan Iran. Harga bensin rata-rata menembus USD3 per galon, tercatat untuk pertama kalinya sejak November 2025.

Kenaikan harga bahan bakar ini dipicu balasan Teheran terhadap serangan AS dan Israel yang mengganggu pasokan minyak global. Serangan tersebut menghantam fasilitas produksi di negara-negara tetangga serta kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur perdagangan utama dunia.

Harga minyak dunia pun melonjak, dengan minyak mentah Brent naik lebih dari 5 menjadi hampir USD77 per barel, sehingga harga bahan bakar ikut terdorong naik seiring kenaikan biaya bahan baku.

Menurut analis, lonjakan harga bensin membuat banyak warga AS kesulitan mengimbangi kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari.

"Harga bensin memiliki kekuatan psikologis. Itu adalah angka inflasi yang dilihat konsumen setiap hari," ujar Kepala Investasi Siebert Financial, Mark Malek, dilansir Reuters, Selasa (3/3/2026).

Para analis memperkirakan setiap kenaikan harga minyak mentah USD10 per barel dapat mendorong harga bensin naik 25 sen per galon di SPBU. Hambatan di kilang dapat memicu lonjakan harga yang lebih besar.

Data OPIS menunjukkan, harga rata-rata bensin eceran melampaui USD3 per galon pada Senin (2/3/2026). Penasihat Senior Gulf Oil, Tom Kloza memperkirakan harga bensin bisa mencapai USD3,25 per galon minggu ini akibat krisis geopolitik saat ini.

 

Sebelum serangan terhadap Iran, harga bensin AS sudah naik selama empat minggu berturut-turut, menurut data GasBuddy. Kenaikan ini terjadi karena kilang mulai beralih ke produksi bahan bakar musim panas yang lebih mahal, sesuai peraturan lingkungan.

Snalis GasBuddy Patrick De Haan menambahkan bahwa kenaikan harga akan semakin diperparah oleh konflik.

"Pada minggu mendatang, harga bensin kemungkinan menghadapi tekanan kenaikan yang lebih tinggi karena tren musiman berlanjut dan pasar menavigasi lanskap geopolitik yang berkembang," ujarnya.

Topik Menarik