Ekspansi Manufaktur RI Tertinggi dalam 2 Tahun, PMI Tembus 53,8
JAKARTA – Sektor manufaktur Indonesia mencatat kinerja gemilang pada Februari 2026 dengan menembus level ekspansi tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Berdasarkan data terbaru, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia melonjak ke 53,8 dari 52,6 pada Januari 2026.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menjelaskan penguatan tersebut didorong tingginya permintaan baru yang diikuti pertumbuhan produksi secara pesat.
"Resiliensi ekonomi domestik menjadi modal penting di tengah situasi global yang dinamis," ujar Febrio, Selasa (3/3/2026).
Dari sisi konsumsi rumah tangga, kontribusi terhadap roda ekonomi nasional juga tercatat signifikan. Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2026 tumbuh 7,9 persen secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut terlihat pada peningkatan penjualan sektor makanan, minuman, dan sandang, serta didukung mobilitas masyarakat yang semakin tinggi.
"Penguatan konsumsi juga terlihat dari penjualan kendaraan bermotor yang positif, dengan penjualan sepeda motor naik 3,1 persen dan penjualan mobil tumbuh 7,0 persen," tambahnya.
Optimisme masyarakat tetap berada di zona kuat, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang naik ke level 127 dari sebelumnya 123,5.
Di sektor eksternal, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD0,95 miliar. Capaian ini ditopang ekspor nonmigas, khususnya dari industri pengolahan yang tumbuh 8,19 persen (yoy), mencakup komoditas utama seperti minyak sawit, nikel, dan besi baja, serta produk bernilai tambah seperti otomotif dan elektronik.
Sementara itu, impor tercatat sebesar USD21,20 miliar atau naik 18,21 persen (yoy). Kenaikan impor dinilai positif karena didominasi bahan baku dan barang modal, yang menandakan aktivitas investasi dan produksi di dalam negeri tengah meningkat.
Meski indikator ekonomi domestik menunjukkan tren positif, pemerintah tetap memberi perhatian khusus terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 yang berujung pada penutupan Selat Hormuz menjadi risiko utama bagi rantai pasok energi global.
Febrio menekankan gangguan pasokan minyak bumi dan volatilitas pasar keuangan global dapat menekan kinerja ekonomi melalui peningkatan biaya logistik.
"Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional," pungkas Febrio.










