Wall Street Terpuruk Akibat Kekhawatiran Konflik Timur Tengah yang Berkepanjangan

Wall Street Terpuruk Akibat Kekhawatiran Konflik Timur Tengah yang Berkepanjangan

Ekonomi | idxchannel | Senin, 2 Maret 2026 - 22:40
share

IDXChannel - Indeks utama Wall Street dibuka lebih rendah pada perdagangan Senin (2/3/2026), karena investor bersiap menghadapi konflik Timur Tengah yang berkepanjangan, sehingga berpotensi mengganggu jalur perdagangan global dan memicu kembali tekanan inflasi.

Dilansir dari Reuters, Dow Jones Industrial Average dibuka turun 183,5 poin atau 0,37 persen  menjadi 48.794,42.

S&P 500 melemah 54,5 poin atau 0,79 persen menjadi 6.824,36, sementara Nasdaq Composite melorot 346,1 poin atau 1,53 persen menjadi 22.322,119.

Sektor yang paling terpukul termasuk maskapai penerbangan. Sebab, sejumlah maskapai menghentikan penerbangan, sementara beberapa fasilitas minyak dan gas di Timur Tengah menghentikan produksi, yang mendorong harga minyak mentah naik lebih dari 8 persen.

Hal itu menciptakan prospek yang suram secara keseluruhan untuk ekonomi global dan juga membebani saham-saham keuangan.

Saham Delta dan United Airlines masing-masing anjlok lebih dari 3 persen.

Investor malah berbondong-bondong ke aset aman tradisional seperti dolar. Kenaikan harga logam mulia membantu perusahaan pertambangan seperti Kinross Gold dan Harmony Gold masing-masing naik 1 persen.

Saham sektor pertahanan juga mendapat dorongan, dengan Lockheed Martin dan RTX masing-masing naik lebih dari 3 persen, sementara Kratos naik 9 persen dan AeroVironment naik 19 persen.

Setelah serangan terkoordinasi AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Teheran, Israel melancarkan serangan balasan menyusul serangan udara oleh militan Iran dan Hizbullah di Lebanon, memperdalam kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas lebih jauh di seluruh wilayah tersebut.

Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan serangan terhadap Iran dapat berlanjut selama empat minggu ke depan.

Kepala Strategi Teknis LPL Financial Adam Turnquist mengatakan, kerugian pasar terkendali karena investor telah mengantisipasi konflik selama beberapa minggu terakhir.

"Pasar menerimanya dengan relatif baik mengingat harga minyak saat ini dan kemungkinan ini akan berlangsung selama empat minggu dan ini bukan peristiwa akhir pekan biasa," katanya.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik