Fundamental Solid, BNI Bukukan Laba Bersih Rp20 Triliun Sepanjang 2025
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI berhasil menutup tahun buku 2025 dengan catatan kinerja keuangan yang solid meski berada di tengah dinamika kebijakan moneter global. Perseroan membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20 triliun, yang didorong oleh pertumbuhan kredit yang sehat serta kualitas aset yang terus membaik.
"Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif," ujar Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan seperti dikutip, Selasa (3/2/2026).
Baca Juga:BNI Raih Laba Rp10,1 Triliun Sepanjang Semester I-2025, Penyaluran Kredit Rp778,7 T
Putrama menjelaskan pertumbuhan perusahaan ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin kuat melalui transformasi organisasi dan peningkatan produktivitas. Langkah strategis ini mencakup penguatan teknologi, optimalisasi jaringan kantor, hingga pemanfaatan data analitik untuk meningkatkan pengalaman nasabah secara berkelanjutan.
Sepanjang 2025, BNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 15,9 secara tahunan (yoy). Capaian intermediasi yang positif ini menunjukkan ketahanan model bisnis perseroan dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif di tengah tantangan ekonomi global.Sementara, Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menambahkan pertumbuhan kredit tersebut sepenuhnya didanai oleh dana murah (CASA) yang tumbuh 28,9 (yoy). Komposisi ini didukung oleh lonjakan giro sebesar 43,8 persen dan pertumbuhan tabungan sebesar 11,2 persen yang memperkuat likuiditas perseroan.
Momentum akselerasi bisnis terlihat nyata pada kuartal IV-2025, di mana BNI membukukan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,4 triliun. Angka ini merupakan capaian tertinggi dibandingkan tiga kuartal sebelumnya, disokong oleh pertumbuhan net interest income (NII) dan fee based income (FBI).
Secara kumulatif, NII tercatat sebesar Rp40,3 triliun meskipun terdapat tekanan pada loan yield akibat penurunan suku bunga acuan. Sementara itu, pendapatan non-bunga naik 5,2 menjadi Rp24,6 triliun berkat peningkatan aktivitas transaksi di kanal digital, treasury, serta layanan trade finance.
Baca Juga:Kinerja Fundamental Solid, BNI Bukukan Laba Bersih Rp15,12 Triliun di Kuartal III-2025Dari sisi manajemen risiko, BNI menunjukkan perbaikan kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto di level 1,9. Angka Loan at Risk (LaR) juga membaik menjadi 8,5, yang menandakan eksposur risiko kredit perseroan telah kembali ke kondisi sebelum pandemi.
Komitmen Pembiayaan Berkelanjutan
Guna mengantisipasi risiko di masa depan, BNI tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dengan NPL coverage ratio sebesar 205,5. Paolo menekankan bahwa pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas aset tetap terkendali secara granular.Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, menyampaikan bahwa BNI juga terus memperkuat praktik keberlanjutan. Hingga akhir 2025, portofolio pembiayaan berkelanjutan BNI mencapai Rp197 triliun atau setara 22 persen dari total kredit, yang disalurkan ke sektor energi terbarukan hingga UMKM.
Sebagai pionir green banking, BNI telah menerbitkan Sustainability Bond dan Green Bond masing-masing senilai Rp5 triliun. Perseroan juga meluncurkan ESG Advisory Playbook untuk subsektor kelapa sawit sebagai panduan transisi bagi debitur, menjadikan BNI bank pertama di Indonesia yang menginisiasi panduan tersebut.
BNI berkomitmen untuk terus memperluas pembiayaan pada sektor prioritas hijau guna mendukung target Net Zero Emission 2060 pemerintah. Transformasi ini diharapkan dapat menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan melalui integrasi prinsip ESG dalam setiap kebijakan operasional perusahaan.










