BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan
Bank sentral Indonesia mempertahankan suku bunga acuan selama delapan bulan berturut-turut pada hari Kamis (21/9), dengan fokus untuk memastikan rupiah tetap stabil dan inflasi tetap berada dalam target.
Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada level 5,75 persen, sejak bulan Januari, seperti yang diperkirakan secara luas oleh 31 ekonom yang disurvei oleh Reuters.
Dua suku bunga utama lainnya juga dipertahankan tidak berubah.
Keputusan tersebut menegaskan kembali ekspektasi sebagian besar analis bahwa BI akan mempertahankan suku bunga sampai ketidakpastian global mereda karena kekhawatiran terhadap tekanan terhadap mata uang.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, acuan tersebut sejalan dengan sikap bank sentral yang memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran sasarannya pada tahun 2023 dan 2024.
Kisaran target inflasi akan diturunkan menjadi 1,5 persen hingga 3,5 persen pada tahun 2024, kata bank sentral.
Rupiah tetap menjadi mata uang negara berkembang dengan kinerja terbaik di Asia, namun secara bertahap terdepresiasi terhadap dolar AS dalam beberapa minggu terakhir ke level terlemahnya dalam enam bulan terakhir.
FILE: Orang-orang berjalan ke pintu masuk bank sentral Indonesia, Bank Indonesia (BI) di Jakarta, 21 Juli 2016. (REUTERS/Iqro Rinaldi)
BI telah berupaya menyeimbangkan stabilitas mata uang dengan mengendalikan inflasi dan menjaga momentum pertumbuhan Indonesia seiring dengan penurunan ekspor di tengah melemahnya harga komoditas.
Kebijakan moneter tetap fokus pada pengendalian stabilitas nilai tukar rupiah sebagai langkah antisipatif dan mitigasi terhadap dampak limpahan ketidakpastian pasar keuangan global, kata Perry dalam konferensi pers.
BI memperkirakan Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunga pada bulan November, yang menurut Warjiyo dapat mempertahankan kekuatan dolar. Sementara itu, perlambatan yang terjadi pada mitra dagang utama Tiongkok dapat memberikan tekanan pada ekspor Indonesia.
Ruang BI untuk melonggarkan kebijakan dibatasi oleh kuatnya dolar AS dan tekanan terhadap neraca pembayaran Indonesia, kata Fakhrul Fulvian, ekonom Trimegah Securities. Ruang pelonggaran baru akan muncul tahun depan, katanya.
Consultancy Capital Economics juga menunda ekspektasi penurunan suku bunga BI yang pertama pada bulan Oktober hingga Desember.










