Haru! Penyandang Disabilitas hingga Pedagang Kecil Diundang ke Pernikahan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas

Haru! Penyandang Disabilitas hingga Pedagang Kecil Diundang ke Pernikahan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas

Berita Utama | inews | Minggu, 8 November 2026 - 11:21
share

SOLO, iNews.id - Kebahagiaan pernikahan G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas tidak hanya dirasakan keluarga besar Mangkunegaran. Dalam rangkaian Dhaup Ageng, masyarakat dari berbagai kalangan juga mendapat kesempatan istimewa untuk ikut merayakan hari bahagia tersebut di Pura Mangkunegaran, Solo.

Salah satu momen paling menyentuh datang dari Budianto, warga Kebakkramat yang tergabung dalam Kelompok Difabel Berdaya. Dia mengaku tak kuasa menahan haru ketika mengetahui dirinya mendapat undangan untuk menghadiri Mangayubagyo Dhaup Ageng.

Bukan tanpa alasan, sepanjang hidupnya Budianto belum pernah sekalipun masuk ke Pura Mangkunegaran. Kali ini, dia tidak datang sebagai wisatawan atau pengunjung, melainkan sebagai tamu yang turut diundang untuk merasakan kebahagiaan keluarga Mangkunegaran.

Mangayubagyo Dhaup Ageng Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

"Saya sampai gemetar saat diberi tahu kalau diundang ke Mangkunegaran. Seumur hidup baru kali ini saya diundang masuk," tutur Budianto dalam keterangan resmi yang diterima iNews.id, Minggu (8/11/2026).

Dia datang bersama sekitar 100 peserta lainnya dari kelompok tersebut. Setibanya di Pamedan Pura Mangkunegaran, mereka disambut dengan jamuan dan berbagai kegiatan yang berlangsung selama Mangayubagyo pada 6-8 November 2026.

Pengalaman serupa dirasakan Kholis, anggota komunitas penyandang disabilitas dari Jumapolo, Karanganyar. Dia bahkan sudah bersiap sejak siang untuk menghadiri acara tersebut.

Selama ini, Kholis hanya bisa melewati kawasan Pura Mangkunegaran tanpa pernah masuk ke dalamnya. Undangan Mangayubagyo akhirnya memberinya kesempatan untuk menjadi bagian dari perayaan pernikahan yang istimewa tersebut.

"Biasanya hanya lewat. Kalau masuk, belum pernah," ujar Kholis.

Mangayubagyo Dhaup Ageng Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Kehadiran mereka menjadi gambaran bahwa kebahagiaan Dhaup Ageng tidak hanya dibagikan kepada keluarga dan kerabat, tetapi juga masyarakat luas.

Mengusung tema Sumambung ing Rasa, Nyawiji ing Pangestu, Mangayubagyo menjadi ruang perjumpaan bagi warga, komunitas, pelaku usaha lokal, hingga berbagai kelompok sosial untuk menyampaikan doa dan pangestu bagi Gusti Sura dan Kanjeng Dimas.

Juru Bicara Dhaup Ageng Mangkunegaran, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, mengatakan kegiatan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur keluarga yang ingin dibagikan kepada masyarakat.

"Mangayubagyo merupakan ungkapan rasa syukur keluarga yang ingin dibagikan bersama masyarakat. Kami membuka ruang bagi masyarakat untuk turut berbahagia serta menyampaikan doa dan pangestu bagi kedua mempelai," ujar Ayu.

Sekitar 200 undangan dari panti dan kelompok sosial turut hadir setiap hari sebagai bagian dari kegiatan tersebut. Dengan demikian, Mangayubagyo tidak hanya menjadi perayaan pernikahan, tetapi juga kesempatan bagi berbagai lapisan masyarakat untuk saling bertemu dan merasakan kebersamaan.

Abdi Dalem hingga Pedagang Kecil Ikut Meriahkan Acara

Hal menarik lainnya, Mangayubagyo juga memberikan ruang bagi abdi dalem dan pelaku usaha lokal untuk mengambil bagian dalam perayaan.

Salah satunya Feri Setyawan, abdi dalem yang sehari-hari bertugas menjaga kebersihan dan pertamanan Pura Mangkunegaran. Di luar tugas pengabdiannya, Feri juga mengelola usaha wedangan khas Solo.

Abdi Dalem Pura Mangkunegaran di pernikahan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Dalam kesempatan tersebut, dia membawa sejumlah minuman tradisional, mulai dari wedang ronde, wedang asle, hingga wedang kacang. Masing-masing disiapkan sekitar 30 porsi dan seluruhnya habis dinikmati para tamu.

"Saya abdi dalem di bagian kebersihan dan pertamanan. Saya bersyukur diundang dan diberi kesempatan untuk ikut dalam Mangayubagyo Dhaup Ageng," kata Feri.

Kesempatan serupa juga dinikmati Nunung, pedagang sate kere asal Sukoharjo. Dia menyiapkan sekitar 500 porsi setiap hari untuk para tamu yang hadir.

Sementara itu, Wimbu turut meramaikan sajian kuliner dengan menghadirkan sekitar 200 porsi sate taichan.

Keterlibatan para pedagang tersebut memperlihatkan bagaimana perayaan keluarga Mangkunegaran turut membuka kesempatan bagi usaha kecil untuk mengambil bagian dalam kegiatan besar.

Tari Gambyong Pareanom Dhauap Ageng Mangkunegaran Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. (Foto: Istimewa)

Ada Pertunjukan Seni hingga Doa untuk Kedua Mempelai

Selama tiga hari pelaksanaan, Mangayubagyo juga dimeriahkan berbagai pertunjukan seni budaya. Masyarakat dapat menikmati tari tradisional, musik keroncong, hingga wayang kulit.

Tak hanya menyaksikan pertunjukan, warga juga mendapatkan kesempatan menyampaikan doa dan harapan bagi kehidupan rumah tangga Gusti Sura dan Kanjeng Dimas melalui rangkaian pangestu.

Melalui kegiatan ini, Dhaup Ageng Mangkunegaran menghadirkan makna yang lebih luas dari sekadar perayaan pernikahan. Kebahagiaan kedua mempelai menjadi momentum untuk membuka ruang kebersamaan, melibatkan masyarakat, serta memberikan kesempatan kepada mereka yang mungkin belum pernah merasakan pengalaman serupa.

Bagi Budianto dan Kholis, undangan tersebut mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, kesempatan pertama memasuki Pura Mangkunegaran sebagai tamu dalam perayaan keluarga kerajaan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

Topik Menarik