Keluarga Glazer Siap Jual MU Rp119 Triliun? Ada 2 Syarat Mengejutkan!
MANCHESTER, iNews.id – Manchester United (MU) berpeluang berganti pemilik setelah keluarga Glazer dikabarkan mempertimbangkan penjualan saham mayoritas klub senilai lebih dari Rp119,1 triliun. Namun, pemilik asal Amerika Serikat itu disebut masih menunggu dua kondisi yang berpotensi meningkatkan nilai jual Setan Merah.
Kabar tersebut muncul di tengah keterpurukan MU pada awal musim Liga Inggris 2026-2027. Kekalahan telak 0-3 dari Bournemouth di Old Trafford, Minggu (25/10/2026), membuat tim asuhan Michael Carrick semakin terpuruk di papan bawah klasemen.
MU kini berada dalam tekanan setelah hanya unggul tipis dari zona degradasi. Carrick bahkan terancam kehilangan pekerjaannya, meski sebagian pendukung menilai persoalan klub jauh lebih besar daripada sekadar pergantian pelatih.
Sorotan kembali mengarah kepada keluarga Glazer yang menguasai klub sejak 2005. Akuisisi melalui skema pembelian dengan utang kala itu membebani MU dengan kewajiban sekitar 600 juta poundsterling atau setara Rp14,3 triliun.
Kritik terhadap kepemilikan Glazer semakin tajam setelah Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013. Berbagai pergantian pelatih dan kegagalan mengembalikan kejayaan klub membuat para pendukung terus menuntut perubahan kepemilikan.
Harapan kebangkitan sempat muncul ketika Sir Jim Ratcliffe membeli sekitar 28 persen saham MU dan mengambil alih kendali operasional sepak bola. Namun, investasi pengusaha Inggris tersebut belum mampu mengangkat performa Setan Merah.
Dua Kondisi yang Bisa Membuat Keluarga Glazer Jual MU
Menurut laporan ESPN, seorang sumber menyebut keluarga Glazer sedang menunggu waktu yang tepat untuk menjual kepemilikan mereka di MU. Ada dua perkembangan yang dinilai berpotensi membuat klub lebih menarik bagi calon investor.
Kondisi pertama berkaitan dengan pembangunan stadion baru berkapasitas 100.000 penonton untuk menggantikan Old Trafford. Proyek tersebut menjadi salah satu rencana besar MU dalam meningkatkan fasilitas sekaligus nilai komersial klub.
Pada Juni 2026, MU dilaporkan telah mengamankan sebagian besar lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan stadion tersebut. Kehadiran arena baru berpotensi meningkatkan valuasi klub sebelum keluarga Glazer memutuskan menjual sahamnya.
Kondisi kedua jauh lebih mengejutkan, yakni kemungkinan Manchester City dikeluarkan dari Liga Inggris akibat pelanggaran aturan keuangan.
Komisi independen telah menyatakan Manchester City bersalah atas pelanggaran serius aturan keuangan yang berkaitan dengan periode 2009 hingga 2018. Namun, klub tersebut mengajukan banding dan hingga kini belum ada keputusan akhir mengenai sanksi.
Apabila Manchester City benar-benar dikeluarkan dari kompetisi, MU akan kehilangan salah satu pesaing terkuatnya dalam perebutan gelar domestik. Situasi tersebut dipandang berpotensi meningkatkan daya tarik Setan Merah bagi calon pembeli.
Meski demikian, kedua kondisi itu masih sebatas faktor yang disebut dapat memengaruhi keputusan penjualan. Belum ada pengumuman resmi dari keluarga Glazer mengenai kesepakatan ataupun waktu pelepasan saham mayoritas MU.
Keluarga Glazer Dikabarkan Pasang Harga Fantastis
Laporan The Mirror menyebut keluarga Glazer bersedia mempertimbangkan tawaran penjualan MU dengan nilai sekitar 5 miliar poundsterling atau setara Rp119,19 triliun.
Angka tersebut dikabarkan lebih dari dua kali lipat valuasi MU di pasar saham saat laporan itu muncul. Tingginya harga yang diinginkan pemilik menjadi salah satu tantangan bagi calon investor.
Hubungan keluarga Glazer dengan pendukung MU juga telah lama diwarnai ketegangan. Salah satu puncaknya terjadi pada April 2021 ketika klub terlibat dalam rencana pembentukan European Super League.
Saat itu, Joel Glazer menyampaikan surat terbuka kepada suporter pada 21 April 2021 untuk meminta maaf atas keterlibatan MU dalam proyek kontroversial tersebut.
"Kalian telah menyampaikan dengan sangat jelas penolakan terhadap European Super League, dan kami mendengarkannya. Kami telah melakukan kesalahan dan ingin menunjukkan kami mampu memperbaikinya," tulis Joel Glazer.
Dia juga mengakui kepercayaan suporter tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Joel berjanji mempelajari kritik yang disampaikan pendukung dan berupaya memperbaiki hubungan dengan mereka.
"Meskipun luka tersebut masih terasa dan saya memahami butuh waktu untuk memulihkannya, saya secara pribadi berkomitmen membangun kembali kepercayaan dengan para penggemar," lanjutnya.
Joel Glazer menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan sepak bola Eropa, tetapi mengakui European Super League bukan solusi yang tepat. Dia juga meminta maaf karena proyek tersebut dinilai tidak cukup menghormati tradisi promosi, degradasi, dan piramida kompetisi.
"Ini adalah klub sepak bola terbesar di dunia, dan kami meminta maaf tanpa syarat atas keresahan yang terjadi selama beberapa hari terakhir," tulisnya.
Rencana European Super League akhirnya runtuh menyusul gelombang penolakan dari pendukung dan otoritas sepak bola. Sejak saat itu, keluarga Glazer relatif jarang memberikan penjelasan terbuka kepada suporter di tengah berbagai persoalan klub.
Kini, rumor penjualan kembali mencuat saat MU menghadapi salah satu periode sulitnya. Namun, masa depan kepemilikan Setan Merah masih bergantung pada keputusan keluarga Glazer dan ada tidaknya investor yang bersedia memenuhi valuasi klub.









