Menkes dan Gubernur Kalteng Turun Langsung Cek Dampak Kabut Asap Warga Palangka Raya
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah kian menjadi perhatian serius. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turun langsung ke Palangka Raya untuk memantau dampak pencemaran udara terhadap kesehatan masyarakat sekaligus memastikan fasilitas pelayanan kesehatan siap menangani warga terdampak.
Dalam kunjungan kerja pada Jumat (23/10/2026), Budi meninjau sejumlah fasilitas kesehatan, mulai dari Puskesmas Menteng, Rumah Oksigen di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bundaran Besar, RSUD Doris Sylvanus hingga Puskesmas Panarung.
Kunjungan tersebut turut didampingi Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, Sekretaris Daerah Linae Victoria Aden serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Menkes memberikan perhatian khusus kepada puskesmas karena menjadi fasilitas kesehatan pertama yang umumnya didatangi masyarakat saat mengalami keluhan akibat paparan kabut asap. Pemeriksaan sejak dini dinilai penting agar gangguan pernapasan tidak berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.
“Kalau sakitnya sudah menjadi lebih parah, bukan saja ISPA biasa tapi menjadi pneumonia, harus dibawa ke rumah sakit,” kata Budi, Jumat (23/10/2026).Budi mengungkapkan, kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah masih tergolong sangat buruk dibandingkan beberapa daerah lain yang turut terdampak karhutla.
“Bahkan, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah lokasi telah menembus angka 300 atau masuk kategori berbahaya,” katanya.
Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil dan lanjut usia. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan menggunakan masker N95 dengan pemasangan yang benar.
“Jangan keluar rumah kalau tidak perlu, terutama kelompok rentan, balita, ibu hamil dan orang tua. Usahakan kalau pergi harus pakai masker N95 dengan cara pakai yang benar,” ujarnya.
Menurut Budi, partikel polutan berukuran sangat kecil, termasuk PM2,5, dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Karena itu, perlindungan terhadap paparan asap menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama karhutla masih berlangsung.Selain memantau pelayanan kesehatan, Kementerian Kesehatan juga menyalurkan bantuan untuk mendukung penanganan dampak kabut asap. Bantuan tersebut meliputi masker bedah, masker N95, oxygen concentrator, nebulizer, tabung oksigen, air purifier serta multivitamin dalam bentuk tablet dan sirup.
Rumah Oksigen di RTH Bundaran Besar turut menjadi perhatian dalam peninjauan tersebut. Fasilitas ini disiapkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dukungan layanan kesehatan di tengah kondisi udara yang memburuk.
Di tengah upaya penanganan dampak kesehatan, Budi berharap hujan segera turun untuk membantu meredakan kebakaran dan memperbaiki kualitas udara di Kalimantan Tengah.
“Saya berdoa mudah-mudahan cepat hujan. Kami Kemenkes ingin selalu memastikan dampak yang ditimbulkan seminimal mungkin,” kata Budi.
Kunjungan Menkes menjadi bagian dari upaya memastikan penanganan dampak karhutla berjalan beriringan dengan pemadaman api.
“Sebab, ketika asap menyelimuti permukiman dan kualitas udara memasuki kategori berbahaya, perlindungan kesehatan masyarakat menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi warga yang paling rentan terhadap paparan polusi,” pungkasnya.








