Pendeta Pimpinan Sekte Kelaparan Kenya Didakwa Atas 190 Pembunuhan

Pendeta Pimpinan Sekte Kelaparan Kenya Didakwa Atas 190 Pembunuhan

Berita Utama | okezone | Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:05
share

MOMBASA - Sebuah pengadilan di Kenya telah menyatakan pengkhotbah Paul Mackenzie bersalah atas pembunuhan 190 anak dan satu orang dewasa dengan cara memaksa mereka kelaparan hingga meninggal dunia demi “bertemu Yesus”. Pembantaian tersebut, yang terungkap pada 2023, digambarkan oleh Presiden William Ruto sebagai tindakan yang “setara dengan terorisme.”

Hakim Diana Kavedza membacakan putusan tersebut di Mombasa pada Senin, (19/10/2026) dengan menyatakan Mackenzie beserta 28 terdakwa lainnya bersalah atas seluruh 191 dakwaan pembunuhan. Pengadilan menemukan bahwa organisasi miliknya, Gereja Good News International, menggunakan ajaran agama serta hierarki tetua desa untuk mengatur dan menegakkan praktik puasa yang mematikan di Hutan Shakahola, di wilayah pesisir Kabupaten Kilifi.

“Para pengikut Mackenzie terlebih dahulu dipengaruhi melalui jaringan keagamaan dan komunikasi yang telah mapan. Mereka kemudian diarahkan untuk pindah lokasi. Sesampainya di permukiman tersebut, mereka diperintahkan untuk berpuasa,” ujar Hakim Kavedza, sebagaimana dilansir RT.

Hakim menyatakan bahwa anak-anak menjadi sasaran utama, sementara para penjaga memukuli pengikut yang mencoba makan atau melarikan diri. Menurut putusan tersebut, Mackenzie juga menginstruksikan para pengikutnya untuk menolak pendidikan sekolah maupun layanan kesehatan.

Pembacaan vonis dijadwalkan pada 6 November. Mackenzie membantah telah memaksa para pengikutnya untuk berpuasa. Pengacaranya, Lawrence Obonyo, menyebut putusan tersebut “membingungkan” dan menyatakan bahwa pihak pembela berencana untuk mengajukan banding.

Mackenzie ditangkap pada April 2023 setelah polisi menyelamatkan para pengikutnya yang dalam kondisi sangat kurus di Hutan Shakahola. Di lokasi tersebut, penyelidik kemudian menemukan ratusan jenazah di dalam kuburan dangkal. Pemeriksaan pascakematian menunjukkan bahwa beberapa korban meninggal akibat sesak napas, pencekikan, atau cedera kepala. Jenazah lainnya telah membusuk terlalu parah sehingga penyebab kematiannya tidak dapat dipastikan.

 

Menurut laporan tahun 2024 dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya, total 429 jenazah ditemukan di kuburan-kuburan di Hutan Shakahola. Komisi tersebut menuduh aparat keamanan melakukan “pengabaian tugas yang sangat berat serta kelalaian” karena mengabaikan peringatan-peringatan kredibel yang telah muncul sejak tahun 2017.

Awal tahun ini, Mackenzie dan tujuh rekannya menghadapi dakwaan baru setelah penyelidik menemukan jenazah 52 orang yang diduga meninggal antara Januari hingga Juli 2025 di Kwa Binzaro, yang terletak sekitar 30 km dari Shakahola.

Jaksa menduga bahwa bahkan setelah penangkapannya, Mackenzie tetap memengaruhi para pengikutnya melalui perantara dan jaringan keuangan. Para penyelidik dilaporkan menemukan catatan tulisan tangan dari sel tahanannya yang diduga merinci transaksi keuangan yang dilakukan melalui telepon seluler. Para terdakwa membantah tuduhan tersebut.

Selama persidangan, jaksa menghadirkan 123 saksi, termasuk anak-anak dan rekan-rekan dewasa yang terlibat, serta menyajikan analisis DNA, rekaman digital, dan laporan forensik, demikian pernyataan Kantor Direktur Penuntutan Umum (ODPP) pada hari Senin.

Topik Menarik