Sanksi Barat Tak Mampu Bendung Minyak Rusia, Ekspor Tiap Pekan Tembus Rp42 Triliun

Sanksi Barat Tak Mampu Bendung Minyak Rusia, Ekspor Tiap Pekan Tembus Rp42 Triliun

Berita Utama | sindonews | Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:15
share

Tekanan sanksi Barat belum menghentikan aliran minyak Rusia ke pasar dunia, bahkan nilai ekspor minyak mentah melalui jalur laut melonjak ketika harga minyak global meningkat akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah. Nilai bruto minyak mentah Rusia yang dikapalkan dari pelabuhan negara itu mencapai sekitar USD2,75 miliar atau setara Rp49 triliun pada pekan berakhir 27 September 2026.

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul sebelumnya mendesak negara-negara Eropa untuk mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap energi Rusia, mencerminkan tekanan yang masih dihadapi Moskow dari negara-negara Barat.

"Ancaman terbesar terhadap kebebasan benua kami datang dari Moskow. Bahaya terbesar bagi Eropa adalah imperialisme agresif (Presiden Rusia Vladimir) Putin," kata Wadephul dalam kunjungannya ke Slovakia pada 29 September.

Baca Juga:Harga Solar Naik Gila-gilaan, G7 Sepakat Lepas Cadangan Minyak 100 Juta Barel

Bloomberg melaporkan kenaikan nilai ekspor minyak Rusia tersebut ditopang kombinasi harga minyak yang lebih tinggi dan peningkatan volume pengiriman. Dalam periode empat pekan hingga 27 September, ekspor minyak mentah Rusia melalui laut rata-rata mencapai sekitar 3,71 juta barel per hari, tertinggi sejak awal Agustus, sedangkan nilai ekspor rata-rata mencapai sekitar USD2,39 miliar atau setara Rp42 triliun tiap pekan.Kenaikan tersebut menunjukkan Rusia masih mampu memperoleh manfaat dari pasar energi global meskipun Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya sejak 2022 berupaya menekan pendapatan Moskow dari sektor minyak. Nilai USD2,75 miliar itu merupakan estimasi nilai bruto minyak yang dikirim dari pelabuhan Rusia dan bukan penerimaan pajak yang langsung masuk ke kas pemerintah.

Lonjakan harga minyak menjadi salah satu penopang utama nilai ekspor Rusia. Gangguan terhadap pengiriman energi melalui Selat Hormuz akibat konflik di kawasan Iran mendorong pasar mencari pasokan alternatif dan mengerek harga minyak internasional, sehingga produsen seperti Rusia yang memiliki jalur ekspor di luar Hormuz memperoleh ruang lebih besar untuk meningkatkan penerimaan.

Harga minyak Urals dari pelabuhan Rusia bagian barat bahkan dilaporkan sempat menembus 110 dolar AS per barel pada September, sedangkan minyak ESPO yang dikirim dari Rusia Timur berada pada level lebih tinggi. Harga tersebut jauh di atas asumsi yang digunakan pemerintah Rusia dalam menyusun anggaran negara, sehingga kenaikan harga memberi tambahan ruang pendapatan ketika belanja negara, termasuk pertahanan, tetap tinggi.

Sejak akhir 2022, G7, Uni Eropa dan sejumlah negara mitra menerapkan pembatasan harga terhadap minyak Rusia yang dikirim melalui laut. Uni Eropa juga melarang sebagian besar impor minyak mentah Rusia melalui laut sejak Desember 2022 dan kemudian membatasi impor produk minyak olahan pada Februari 2023, dengan tujuan menekan pendapatan Moskow tanpa menghentikan sepenuhnya pasokan Rusia ke pasar global.

Rusia merespons tekanan tersebut dengan mengalihkan perdagangan minyak dari pasar Eropa ke China, India dan sejumlah negara Asia, sekaligus meningkatkan penggunaan armada dan jaringan perdagangan di luar sistem jasa maritim Barat. Sejumlah kapal yang digunakan dalam perdagangan tersebut kerap disebut sebagai shadow fleet atau armada bayangan.

 

Namun, peningkatan ekspor minyak mentah juga berkaitan dengan tekanan terhadap kapasitas pengolahan Rusia. Serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap sejumlah kilang mengurangi kemampuan Rusia mengolah minyak mentah menjadi solar, bensin dan produk olahan lainnya, sehingga sebagian minyak yang sebelumnya diproses di dalam negeri tersedia untuk diekspor langsung.Kondisi itu tercermin dalam perubahan proyeksi perdagangan energi Rusia. Moskow menaikkan perkiraan ekspor minyak mentah pada 2026 sekitar 150 ribu barel per hari, tetapi memangkas proyeksi ekspor produk minyak olahan sekitar 500 ribu barel per hari. Rusia juga memperpanjang pembatasan ekspor diesel bagi produsen hingga akhir Oktober untuk menjaga pasokan domestik setelah serangan terhadap kilang mengganggu produksi bahan bakar.

Baca Juga:AS Ancang-ancang Gempur Iran Lagi, 9.000 Tentara dan Kapal Induk Menuju Timur Tengah

Dengan demikian, lonjakan nilai ekspor minyak mentah tidak serta-merta menunjukkan seluruh sektor energi Rusia berada dalam kondisi lebih kuat. Rusia memang memperoleh keuntungan dari harga minyak global yang tinggi dan peningkatan pengiriman crude, tetapi pada saat yang sama menghadapi penurunan kapasitas kilang dan ekspor produk bernilai tambah seperti diesel.

Tekanan tersebut juga memperlihatkan dilema yang dihadapi negara-negara Barat. Pembatasan yang lebih keras terhadap ekspor minyak Rusia berpotensi menekan pendapatan Moskow, tetapi jika pasokan Rusia berkurang terlalu besar ketika produksi dan pengiriman dari Timur Tengah terganggu, pasar global dapat semakin ketat dan harga energi berisiko meningkat.

Di tengah kondisi itu, perdagangan energi Rusia belum berhenti meskipun sanksi telah mengubah pembeli, jalur perdagangan, kapal, sistem pembayaran dan mekanisme asuransinya. Lonjakan terbaru nilai ekspor minyak mentah menunjukkan bahwa selama harga minyak global tetap tinggi dan pasar Asia masih menyerap pasokan Rusia, Moskow masih memiliki sumber pendapatan energi yang signifikan, sementara gangguan kilang dan pembatasan diesel membuat pasar produk olahan menghadapi tekanan tersendiri.

Topik Menarik