Ketum IDI Prediksi 5-10 Tahun Mendatang Terjadi Pengangguran Intelektual Dokter
Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Slamet Budiarto memprediksi pada 5-10 tahun mendatang terjadi pengangguran intelektual dokter. Hal ini disebabkan menjamurnya fakultas kedokteran (FK).
"Dengan pencanangan fakultas kedokteran yang menjamur, 5 sampai dengan 10 tahun mendatang saya perkirakan akan terjadi pengangguran intelektual dokter," ujar Slamet dalam podcast atau siniar To The Point Aja yang tayang di YouTube SindoNews, dikutip Sabtu (16/5/2026).
Slamet mengatakan, penting untuk dilakukan kuota mahasiswa fakultas kedokteran. Misal, di Kalimantan penduduknya berapa, bisa dihitung kebutuhan dokternya berapa. "Jumlah penduduknya sekian, berarti kamu hanya nerima sekian. Itu harus dilakukan, tidak digeneralisir bisa menerima banyak, semua sesuai kebutuhan," katanya.
Baca Juga: Prabowo Mau Buka Kampus Kedokteran Gratis, Negara Biayai Penuh
Menurut Slamet, saat ini FK muncul di mana-mana, jumlah dokternya berlebih. Namun, faktanya pemerintah mengangkat dokter hanya 10-18 persen dari jumlah lulusan FK. "Kalau ini diproduksi lagi (lulusan FK), siapa yang bertanggung jawab. Lulusannya mau ke mana, akhirnya ke Jakarta lagi, ke Surabaya lagi, kota-kota besar lagi," ujarnya.Slamet menganalogikan, jika dirinya pemilik pabrik dan produksinya harus lebih banyak, dia punya kewajiban menyalurkan. "Lah, ini dibiarkan, akhirnya terjadi penumpukan."
Menurut Slamet, idealnya rasio dokter dibanding jumlah penduduk adalah 1:3.000. "Kalau 1 berbanding 3.000, satu dokter sehari meriksa sekitar 20 sampai 30 pasien. Tapi, kalau 1 berbanding 1.000, sehari meriksa 4 pasien. Delapan jam dibagi 4, berarti satu pasien 2 jam," jelasnya.
Sebelumnya, Slamet menyebut bahwa organisasi kesehatan dunia (WHO) melakukan pemetaan. Di negara maju, 1.000 populasi ada 1 dokter. Dia menegaskan, itu bukan standar WHO, hanya pemetaan (mapping).
Di Indonesia, saat ini 1 dokter berbanding 1.300 penduduk. Dirinya tidak tahu bagaimana Kementerian Kesehatan menghitung kebutuhan dokter di Indonesia, sehingga beberapa waktu lalu Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia kekurangan 150 ribu atau 300 ribu dokter. "Dalam waktu dekat IDI akan memberi masukan kepada Presiden bahwa hitungan itu perlu diperbaiki."
Slamet menjelaskan, jika menggunakan rasio 1:1.000, angka kesakitan per 1.000 penduduk itu hanya 10 persen. Jadi, kalau satu desa ada 1.000 penduduk, per bulan yang sakit sekitar 100 orang. Berarti, kalau dibagi 25 hari, satu hari seorang dokter memeriksa empat pasien.
"Apa iya satu dokter cuma meriksa empat pasien sehari? Tidak mungkin."









