Pramono Ungkap 153 Pasar di Jakarta Hasilkan 500 Ton Sampah Per Hari, Wajibkan Pemilihan
JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mewajibkan seluruh pasar di Ibu Kota untuk memilih sampah sebelum dikirim ke tempat pembuangan akhir. Hal ini sebagai tindak lanjut Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang gerakan pemilihan dan pengelolaan sampah dari sumber, yang telah dimulai sejak 10 Mei 2026
1. 500 Ton Sampah Per Hari
Ia menyampaikan, selama ini sampah dari pasar langsung dikirim ke TPST Bantargebang, Kota Bekasi, tanpa proses pemilihan. Namun, mulai 1 Agustus 2026, TPST Bantargebang hanya akan menerima sampah jenis residu.
"Pasar Jaya kan punya 153 pasar dan sebenarnya hampir semua pasar yang ada di Jakarta itu dikelola oleh Pasar Jaya. Memang ada beberapa pasar tambahan, ada berapa Pak? Sekitar seratusan," ucap Pramono di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (11/5/2026).
Ia menegaskan, progam pemilahan sampah akan diberlakukan sama, baik untuk pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya maupun pasar non-Pasar Jaya. Pasalnya, hal tersebut merupakan tanggung jawab dari pengelolaan pasar.
"Kami akan memperlakukan hal yang sama, baik itu yang di Pasar Jaya maupun non-Pasar Jaya, mereka tetap bertanggung jawab untuk pengolahan sampah itu dilakukan pemilahan di pasarnya," ucapnya.
Pramono menyampaikan, pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya selama ini menghasilkan 500 ton sampah per hari.
"Sehingga dengan demikian, yang tidak termasuk dalam Pasar Jaya, di luar 500 ton yang selama ini menjadi tanggung jawab Pasar Jaya, kami akan secara khusus untuk menangani ini," tuturnya.
Dalam kunjungannya ke Pasar Kramat Jati, Pramono meninjau pengolahan sampah organik di lokasi tersebut. Ia menyampaikan, peninjauan ini sebagai tindak lanjut program pemilihan dan pengelolaan sampah dari sumber.
Pramono menjelaskan, Pasar Kramat Jati menghasilkan sekira 5 ton sampah organik setiap hari. Sampah itu nantinya diolah menjadi produk yang bermanfaat seperti pupuk.
"Seperti kita ketahui di tempat ini, kurang lebih setiap hari 5 ton, nanti bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk menghasilkan output yang akan bermanfaat bagi pertamanan dan juga yang lainnya, dan juga dengan Pupuk Indonesia," kata Pramono.
Ia percaya, pengolahan ini dapat membantu mengurangi beban gunungan sampah di TPST Bantargebang. Apalagi, mulai 1 Agustus 2026, TPST Bantargebang hanya menerima sampah residu.
"Saya meyakini kalau program ini bisa dijalankan maka ini akan sangat bermanfaat baik untuk mengurangi beban pengiriman sampah dari pasar ke Bantargebang," ucapnya.









