Ekonomi RI Tumbuh 5,61 di Kuartal I 2026, MBG hingga THR jadi Pendorong

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 di Kuartal I 2026, MBG hingga THR jadi Pendorong

Berita Utama | inews | Selasa, 5 Mei 2026 - 12:35
share

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pertumbuhan ekonomi RI yang tumbuh 5,61 persen sepanjang kuartal I-2026. Hal itu ditopang oleh peningkatan aktivitas ekonomi domestik, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga pemberian Tunjangan Hari Raya (THR).

Dimulai dari sisi produksi, penyumbang utama pertumbuhan ekonomi kuartal awal 2026 adalah industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi.

"Hal ini didorong oleh peningkatan aktivitas produksi untuk memenuhi permintaan domestik yang meningkat," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026). 

Rinciannya adalah industri pengolahan tumbuh sebesar 5,04 persen pada kuartal 1-2026 (yoy). Kinerja sektor ini terutama didorong oleh industri makanan dan minuman, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.  

"Pertumbuhan sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri," ujar Amalia.

Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor mampu tumbuh 6,26 persen pada kuartal 1-2026 (yoy) seiring meningkatnya produksi domestik dan impor. 

Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya aktivitas produksi barang pertanian dan industri pengolahan, impor barang-barang konsumsi, barang modal dan bahan baku, serta aktivitas belanja masyarakat.  Sementara itu, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan yang solid 5,49 persen pada triwulan 1-2026 (yoy), didorong oleh peningkatan aktivitas konstruksi baik oleh pemerintah maupun swasta. 

Sedangkan sektor pertanian tumbuh stabil pada angka 4,97 persen untuk triwulan 1-2026 (yoy).  

Dari sisi lapangan usaha, BPS mencatat lima sektor utama yang memberikan kontribusi besar terhadap total PDB triwulan 1-2026, yaitu industri pengolahan (19,07 persen), perdagangan (13,28 persen), pertanian (12,67 persen), konstruksi (9,81 persen), dan pertambangan (8,69 persen).  

Beberapa sektor turut mencatat pertumbuhan yang tinggi, seperti akomodasi dan makan minum yang mampu tumbuh hingga 13,14 persen didorong oleh perluasan cakupan program MBG dan momen libur nasional.

Sektor jasa lainnya tumbuh 9,91 persen, didorong oleh peningkatan jumlah perjalanan wisatawan nusantara dan kunjungan wisatawan mancanegara serta sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen seiring meningkatnya mobilitas masyarakat. 

Dari sisi pengeluaran, Amalia menjelaskan penyumbang utama pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan konsumsi pemerintah. Hal ini didorong oleh konsumsi masyarakat karena momentum hari besar keagamaan serta berjalannya program prioritas pembangunan pemerintah.

Kinerja konsumsi rumah tangga utamanya didorong oleh mobilitas penduduk, berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi, serta berbagai stimulus pemerintah untuk mendorong konsumsi seperti diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI rate pada level 4,75 persen sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.  

Komponen lainnya yang mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran seperti PMTB tumbuh sebesar 5,96 persen. Angka ini didorong oleh investasi pemerintah, antara lain pembangunan terkait prioritas nasional dan investasi swasta. 

Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh impresif hingga 21,81 persen seiring meningkatnya realisasi belanja pegawai melalui pembayaran gaji ke-14 (THR) serta peningkatan belanja barang dan jasa terutama melalui program untuk masyarakat: Makan Bergizi Gratis (MBG).  

BPS merinci pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 di Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Sulawesi menempati posisi teratas sebagai wilayah yang perekonomiannya tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan tertinggi terjadi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara sebesar 7,93 persen, diikuti Sulawesi 6,95 persen serta Jawa 5,79 persen

Topik Menarik