BGN Minta Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan dan Aslap Cek Ketat Bahan Baku sebelum Dimasak

BGN Minta Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan dan Aslap Cek Ketat Bahan Baku sebelum Dimasak

Berita Utama | inews | Senin, 9 Februari 2026 - 08:53
share

PACITAN, iNews.id – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang mengingatkan para pengawas gizi, pengawas keuangan, dan asisten lapangan (Aslap) bekerja sama mengecek bahan baku saat datang, serta bahan makanan yang akan dimasak di dapur Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG) dengan teliti. 

Menurutnya, ketelitian ekstra harus dilakukan untuk mencegah terjadinya insiden keamanan pangan dari awal. 

“Bahan baku kalau memang dari awal sudah ada tanda-tanda ayam itu nggak sehat, sayuran nggak sehat, tahu mungkin nggak sehat, segera kembalikan ke mitra,” kata Nanik saat memberikan pengarahan langsung dalam acara Koordinasi dan Evaluasi untuk para Ahli Gizi Akuntan, dan Chef se-Kabupaten Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek pada akhir pekan Februari 2026 kemarin.

Nanik juga memerintahkan kepada para Pengawas Gizi dan Pengawas Keuangan untuk menolak intervensi yang sering dilakukan mitra SPPG ke dapur-dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Apalagi jika mereka dengan sembarangan mengubah-ubah menu yang sudah disusun Pengawas Gizi. 

“Laporkan ke saya. Kalau ada intervensi saya tutup langsung dapurnya. Nggak boleh, nggak boleh. (Penyusunan menu) nggak ada urusan dengan Mitra. Apalagi mengubah menu (yang telah disusun) Ahli Gizi. Kalau ada yang berani mengubah, saya suspend! Biar mereka rasakan,” kata Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga untuk Pelaksanaan Program MBG itu dengan tegas.

Padahal, kata Nanik, intervensi para mitra ke dapur dengan menganggap para pengelola dapur MBG masih junior, belum berpengalaman, dan tidak tahu harga pangan, hanyalah dalih. 

“Karena saya tahu, mereka akan memilihkan produk yang kurang bagus, supaya bisa ambil untung banyak. Awas saja! Ini yang bikin keracunan mulai dari pemilihan bahan baku yang nggak benar,” ujarnya pula.

Para pengawas gizi dan jurutama masak juga harus mengerti cara menangani bahan, dan memahami petunjuk teknis pemakaian alat. Hal ini penting, agar tidak terjadi insiden keamanan pangan gara-gara ketidakfahaman mereka dalam cara menangani bahan dan pemakaian alat. 

Saat barang datang dan dicek kualitasnya, ayam misalnya, ahli gizi bisa menentukan apakah ayam itu langsung direbus, atau disimpan di dalam chiller dengan suhu di bawah 5 derajat celsius. 

Nanik menekankan pentingnya para pengawas gizi dan jurutama masak untuk benar-benar memahami petunjuk teknis pemakaian alat dan cara penanganan bahan makanan itu.

“Ada di Magelang, (ayam itu) disimpan di chiller dengan suhu 19 derajat. Rak edan. Ini sama dengan mengungkep ayam mentah. Akibatnya salmonella datang dan terjadilah keracunan di Magelang, 200 orang teler,” ujarnya. 

Situasi lebih menyedihkan terjadi di salah satu SPPG di Boyolali yang pekan lalu mengalami insiden keamanan pangan. Sebab, Mitra SPPG ternyata hanya menyediakan chiller bekas, dan kulkas bekas dalam kondisi bermasalah. 

Karena itu Nanik berpesan kepada Chef yang lebih memahami kondisi alat, untuk memberitahu Kepala SPPG agar segera meminta alat pengganti kepada Mitra. Sebab, Mitra yang bertanggung jawab untuk menyediakan peralatan dapur yang baru, dan berkualitas.

“Kalau alat-alat rusak, Chef saya minta, tolong beritahu bahwa alat yang tidak layak dipakai. Jangan dipaksakan. Minta! Karena kita sewa. Kalau ada alat rusak, harus Mitra yang ganti. Peralatan minta yang bagus, seperti apa di juknisnya. Jangan kayak di Boyolali, chillernya bekas, kulkasnya bekas, semuanya bekas. Ini kan kurang ajar. Dia terima 6 juta sehari tapi barang bekas ditaruh,” kata Nanik.

Topik Menarik