Nasional |

JAKARTA – Dua nama mencuat sebagai calon kuat wakil presiden pada 1993. Pertama, BJ Habibie dan kedua, Jenderal TNI Try Sutrisno. Namun Soeharto akhirnya memilih Try, Panglima ABRI yang juga mantan ajudannya.   Terpilihnya Try tak mengejutkan. Selain sosok brilian dengan karier mengilap dan nyaris tanpa cela, Try juga dianggap mewakili sosok muda. Tapi tak banyak orang tahu ada andil jenderal Benny Moerdani di balik terpilihnya Arek Suroboyo itu sebagai orang nomor 2 RI. Bagaimana bisa?

Hartas Keceplosan

Menjelang Sidang Umum MPR 1993, aspirasi untuk memunculkan Jenderal Try Sutrisno sebaga wapres santer mencuat. Sejumlah kalangan menilai Try sebagai sosok paling tepat untuk menggantikan Letjen TNI Sudharmono, wapres ke-5 RI.   Try bahkan digadang-gadang jauh sebelumnya. Pada pertengahan November 1992, misalnya, tujuh ulama yang mewakili tokoh agama Se-Jawa dan Madura mengusulkan nama Try. Rapim PDIP di Cisarua Januari 1993 juga menyuarakan duet Soeharto-Try Sutrisno sebagai presiden dan wapres masa bakti 1993-1998.

“Tanggal 4 April 1993 sekitar 200 kiai dari pesantren di Jawa dan Madura menyampaikan usul kepada ketua umum PPP agar mencalonkan Try Sutrisno sebagai wapres,” tulis laporan Majalah Dharmasena edisi Nomor 3 Tahun 1993.   Tapi, publik benar-benar heboh ketika nama Try diumumkan oleh Kepala Staf Sosial Politik (Kasospol) ABRI Letjen TNI Harsudiono Hartas. Lucunya, Hartas tak pernah bicara dahulu dengan Try. Bahkan, dia juga tak minta persetujuan Pak Harto terlebih dahulu saat menyebut nama atasannya itu sebagai cawapres.   Keputusan Hartas tak urung membuat Try terkejut. Dalam satu wawancara dengan tokoh pers Salim Said, Try mengungkapkan momen-momen tersebut.   “Jangankan konsultasi dengan Pak Harto, dengan saya saja tidak,” kata Try sebagaimana tertuang dalam buku Salim “Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto”, dikutip Minggu (9/3/2026).

 

Try menuturkan, Hartas mengaku keceplosan ketika ditanya wartawan. Saat itu dia baru saja mengikuti taklimat di Departemen Dalam Negeri. “Saat ditanya siapa calon dari ABRI, dia bilang Try Sutrisno. Sudah itu Hartas datang kepada saya minta maaf dan siap dipecat akibat keceplosan itu,” ujar Try.   Tapi Hartas ternyata punya versi tersendiri. Dalam wawancara terpisah dengan Salim Said, tentara lulusan Akademi Militer Nasional 1960 itu mengaku ABRI mendorong Try karena dari dua nama yang muncul, Pak Harto telah memberikan isyarat.   “Tempat Habibie di bidang teknologi,” ujar Harto ditirukan Hartas.   Pernyataan itulah yang lantas ditafsirkannya bahwa penguasa Orde Baru tersebut lebih memilih Try. Karena ini pula dia tak ragu melontarkan nama Try saat diberondong pertanyaan para awak media.

Dipersiapkan Benny Moerdani

Dalam pandangan Salim Said, tidak mungkin Hartas keceplosan begitu saja. Memunculkan nama Try ke publik bukan suatu ketidaksengajaan, melainkan memang sudah keputusan kolektif pimpinan ABRI. Hartas, kata Salim, lebih bertindak sebagai juru bicara dan operator lapangan mereka.   Pikiran ini diperkuat dengan pernyataan mantan Pangab Jenderal TNI Benny Moerdani dalam wawancara dengan Michael RJ Vatikiotis dari majalah Far Eastern Economic Review. Benny menyebut, kesepakatan para jenderal mencalonkan Try ternyata sudah diputuskan lima tahun sebelumnya alias pada 1988!   “Kami memutuskannya lima tahun silam. Kami putuskan setelah Sudharmoni terpilih pada 1988, ABRI harus mendudukan jabatan wakil presiden berikutnya. Kami putuskan mempersiapkan Try Sutrisno,” kata Benny.   Sempat Menolak   Try sesungguhnya berulang kali menolak ketika namanya didorong-dorong sebagai calon pendamping Soeharto. Bahkan ketika Fraksi ABRI di MPR disebut sudah sepakat memilihnya, jenderal lulusan Atekad Bandung ini tetap bergeming.   Penolakan ini bukan tanpa sebab. Jenderal dari korps Zeni itu sangat paham ada mekanisme tersendiri untuk menentukan cawapres. Sebagai ketua jalur A (ABRI) dalam Keluarga Besar Golkar, urusan pencalonan wapres tidak bisa digulirkan begitu saja.   “Tapi juga harus dirundingkan dengan ketua umum Golkar dan ketua jalur B (birokrasi) KBG,” tulis buku biografi “Jenderal Try Sutrisno, Sosok Arek Suroboyo,” yang diterbitkan Dinas Sejarah TNI AD.   Asal diketahui, pada masa itu pencalonan wapres biasanya dilakukan tim kecil. Mereka bertugas mencari dan menyaring nama-nama potensial. Setelah itu baru disodorkan kepada Harto untuk dipilih.   Menurut Disjarahad, tim kecil pada 1983 berisi 5 orang. Pada 1988 bertambah menjadi 9 orang dan pada 1993 membengkak lagi menjadi 11 orang. Try termasuk anggota tim kecil pada 1988 dan 1993.

 

Upaya melobi Try sebagai calon wakil Soeharto tak hanya dilakukan Hartas. Tahu Hartas melumerkan hati Try, giliran ABRI mengutus Wakil Kepala Bais Letjen TNI Arie Sudewo. Namun hasilnya sama.

“Pendirian Try Sutrisno tak bisa digoyang oleh kekuatan apa pun sehingga dengan bijak dia tetap menolaknya,” tulis Disjarahad.   Namun sejarah telah menuliskan jalan sendiri. Tim 11 pada akhirnya telah mengerucutkan dua nama yang dianggap paling layak menjadi wapres. Keduanya, BJ Habibie dan Try. Dan semua tahu, Harto kemudian memilih Try.   Try meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta pada Senin, 2 Maret 2026 dalam usia 90 tahun. Jenderal yang semasa kecil pernah menjadi penjual air minum di kereta api ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta. Upacara pemakaman dipimpin Presiden Prabowo Subianto.



Original Article


#nasional