Wisata Alam di Maros Ternyata Bisa Bantu 300 Anak Sekolah, Ini Kisahnya
MAROS, iNews.id - Wisata alam biasanya menjadi pilihan untuk melepas penat sambil menikmati pemandangan. Namun, di Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pendapatan dari sektor pariwisata memiliki cerita lain.
Ya, hasil pengelolaan wisata desa ternyata ikut membantu membiayai pendidikan ratusan anak dari keluarga kurang mampu. Seperti apa kisahnya?
Desa ini memiliki Wisata Dolli Bungaeja, destinasi yang dikembangkan sejak 2019 dengan mengandalkan potensi alam berupa sumber mata air pegunungan, bentang karst, dan hamparan persawahan. Pengunjung dapat menikmati kolam renang, suasana pedesaan, hingga panorama perbukitan kapur yang menjadi ciri khas wilayah Maros.
Berdasarkan informasi dari Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata, Desa Wisata Dolli Tukamasea juga menawarkan wisata persawahan, kuliner lokal, pemancingan, dan sejumlah spot untuk menikmati pemandangan alam.
Keunikan lainnya terletak pada manfaat ekonomi yang dihasilkan. Sepanjang 2021–2025, sebanyak 300 anak dari keluarga kurang mampu di Desa Tukamasea menerima bantuan pendidikan yang bersumber dari Pendapatan Asli Desa (PADes) sektor pariwisata.
Salah satu sumber pendapatan tersebut berasal dari pengelolaan Wisata Dolli Bungaeja. Pendapatan desa kemudian menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak setempat.
Wisata Alam dengan Manfaat bagi Masyarakat
Pengelolaan wisata di Tukamasea tidak hanya berkaitan dengan daya tarik alam, tetapi juga bagaimana masyarakat memanfaatkan potensi desa tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Wilayah ini memiliki bentang alam karst dan sumber air alami yang melimpah. Namun, ekosistem tersebut juga rentan mengalami kerusakan sehingga pengembangan ekonomi perlu berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.
Keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Kelompok Baca Anggaran (KBA) Tukamasea, yang dipimpin perempuan, mendorong agar pendapatan wisata desa turut dialokasikan untuk beasiswa pendidikan.
Anggota kelompok ini juga terlibat dalam mengawal perencanaan dan penggunaan anggaran desa, mulai dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes), Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes), hingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).
Director, Environmental Governance, The Asia Foundation Indonesia, Frans Siahaan, menjelaskan bahwa partisipasi warga dalam perencanaan pembangunan dapat membuat anggaran publik memberikan manfaat lebih luas.
"Kelompok Baca Anggaran adalah upaya warga untuk terlibat secara partisipatif dalam perencanaan, penganggaran, dan pembangunan desa. Di Tukamasea, kami melihat hasilnya: anggaran publik memberi insentif bagi desa yang menjaga lingkungannya," ujar Frans Siahaan, dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
"Ketika perempuan aktif menyusun dan mengawasi anggaran, warga merasakan dampaknya secara nyata, mulai dari lapangan kerja di sektor pariwisata hingga beasiswa untuk anak-anak desa. Skema ini telah direplikasi di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan dan terus kami dorong di wilayah lain," tambahnya.
Dampak pengelolaan tersebut juga terlihat dalam pembangunan fasilitas wisata. Pada 2022, Desa Tukamasea mengalokasikan Rp200 juta dari Dana Desa untuk pembangunan ramah lingkungan, termasuk pengembangan kawasan pemandian Dolli Bungaeja.
Desa itu juga menerima insentif Transfer Anggaran Kabupaten berbasis Ekologi (TAKE) sebesar Rp110 juta pada 2022 dan Rp62 juta pada 2023. Dana tersebut digunakan untuk memperbaiki jalan, membangun jembatan, dan menata kawasan wisata.
Melalui skema TAKE, pemerintah daerah memberikan insentif kepada desa berdasarkan kinerja, termasuk perlindungan lingkungan, ketahanan bencana, pengelolaan anggaran yang responsif gender, dan pemerataan pembangunan.
Perempuan Maros Juga Mengembangkan Usaha Berbasis Hutan
Cerita mengenai hubungan antara alam dan kesejahteraan warga tidak berhenti di Tukamasea. Di Desa Bontomanurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, kelompok perempuan mengembangkan usaha pengolahan gula aren dengan memanfaatkan hasil hutan secara berkelanjutan.
Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Aren Jaya terdiri atas 26 perempuan yang mengelola hasil nira aren menjadi gula aren batok, gula semut, dan gula cetak. Mereka mengelola usaha dari kawasan hutan kemasyarakatan seluas 96 hektare yang izinnya terbit pada 2019.
Dengan pendampingan Pilar Nusantara (PINUS) Sulawesi Selatan, kelompok ini menjalin kemitraan dengan sejumlah pihak, termasuk Perusda Maros, Aren Sulawesi, dan eksportir PT Golata Healthy Brand.
Produk gula aren mereka telah dikirim ke Korea Selatan sebanyak 5 ton pada 2023 dan ke Inggris sebanyak 3 ton pada 2024. Sejak 2025, produk tersebut juga dikirim ke Dubai dengan volume sekitar 500 kilogram per bulan melalui jalur udara.
Selain mengembangkan usaha, perempuan di Bontomanurung turut terlibat dalam upaya menjaga kawasan hutan. Women Forest Defenders (WFD) Kabupaten Maros dibentuk pada 2024 melalui program SETAPAK. Para anggotanya mendapat pelatihan pemetaan dan pemantauan hutan menggunakan sejumlah aplikasi, termasuk Avenza, SW Map, Forest Watcher, dan SMART Patrol.
Kelompok tersebut menilai patroli yang mereka lakukan ikut menekan potensi kebakaran hutan dalam dua tahun terakhir. Meski begitu, mereka masih menghadapi tantangan, termasuk keraguan sebagian warga terhadap kemampuan perempuan dalam mengawasi hutan.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, turut menyoroti peran masyarakat dalam mengembangkan potensi daerah sekaligus menjaga lingkungan. Hal tersebut disampaikannya saat mengunjungi Tukamasea pada Minggu (18/10/2026).
"Sulawesi Selatan merupakan rumah bagi inovasi, warisan budaya, dan kepemimpinan masyarakat. Dari para peneliti dan akademisi yang mengembangkan dan mengimplementasikan solusi rendah karbon, perempuan yang berwirausaha serta membangun usaha baru, hingga komunitas yang melindungi lingkungan alam mereka, saya melihat berbagai contoh inspiratif tentang bagaimana aksi lokal dapat menciptakan dampak nyata," kata Dominic.
"Inggris bangga bermitra dengan Sulawesi Selatan dalam mewujudkan masa depan yang lebih hijau, lebih inklusif, dan lebih sejahtera," lanjutnya.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program SETAPAK 4, yang didanai Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) dan dijalankan The Asia Foundation bersama PINUS Sulawesi Selatan serta Tim Layanan Kehutanan Masyarakat.
Kisah Tukamasea memperlihatkan bahwa daya tarik wisata alam dapat berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendapatan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas atau aktivitas pengunjung, tetapi juga dapat menjadi sumber pembiayaan kebutuhan warga, termasuk pendidikan.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal sisi lain Maros, kawasan Dolli Bungaeja menawarkan pengalaman menikmati mata air, persawahan, dan lanskap karst sekaligus mengenal bagaimana masyarakat desa mengembangkan potensi alamnya.
Dengan pengelolaan yang memperhatikan lingkungan dan kebutuhan warga, wisata desa memiliki peluang untuk memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar menjadi tempat berlibur.


