Viral! Balita Ditinggal Orangtuanya Sendirian di Tenda demi Summit ke Puncak Gunung Prau

Viral! Balita Ditinggal Orangtuanya Sendirian di Tenda demi Summit ke Puncak Gunung Prau

Travel | okezone | Sabtu, 17 Oktober 2026 - 12:05
share

SEBUAH video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang balita menangis sendirian di dalam tenda kawasan Gunung Prau, Jawa Tengah. Anak tersebut diduga ditinggal kedua orangtuanya yang melakukan summit atau perjalanan menuju puncak gunung.

Peristiwa ini menjadi sorotan setelah sejumlah pendaki mendengar tangisan anak tersebut selama kurang lebih 1 jam. Berdasarkan keterangan dalam unggahan yang beredar, balita itu diperkirakan berada sendirian di tenda selama sekitar 1,5 jam.

Video tersebut diunggah melalui akun Instagram @leerotbkar. Para pendaki yang mendengar tangisan itu kemudian menghampiri tenda untuk memastikan kondisi anak dan menemaninya hingga orangtuanya kembali.

1. Pendaki Temukan Balita Menangis Sendirian

Dalam rekaman yang beredar, para pendaki terlihat memberikan perhatian kepada balita yang berada di dalam tenda. Mereka merasa khawatir karena anak tersebut menangis cukup lama tanpa didampingi orang dewasa.

Setelah mendengar tangisan selama cukup lama, para pendaki akhirnya memutuskan untuk mendekati tenda. Mereka kemudian menemani balita tersebut sembari menunggu orang tuanya kembali dari perjalanan menuju puncak.

Kejadian ini memicu perhatian warganet. Pasalnya, anak yang masih berusia balita membutuhkan pengawasan dan pendampingan orang dewasa, terlebih ketika berada di lingkungan alam terbuka.

2. Ayah Balita Akui Salah Memperkirakan Jarak

Dalam video lain yang beredar di media sosial, ayah balita tersebut akhirnya kembali ke tenda. Salah seorang pendaki kemudian mengingatkan agar anak tidak kembali ditinggalkan sendirian.

“Dedenya nangis lama banget, lain kali jangan ditinggal, mas,” ujar perekam video kepada ayah balita tersebut.

Sang ayah kemudian menjelaskan bahwa mereka sebelumnya sudah melakukan persiapan. Namun, ia mengaku mengira jarak menuju puncak tidak terlalu jauh dari lokasi tenda.

“Iya, mas, tadi sudah prepare, mas. Kita kan sudah panik, maksudnya cek dikira dekat kan, ternyata jauh, makanya saya langsung pulang duluan,” kata sang ayah dalam rekaman tersebut.

Ayah balita tersebut mengaku sempat panik setelah menyadari perjalanan menuju puncak ternyata lebih jauh daripada perkiraannya. Dia pun memutuskan untuk kembali lebih dahulu ke tenda.

 

3. Tuai Kritik dari Warganet

Video tersebut mengundang beragam reaksi dari pengguna media sosial. Banyak warganet menyayangkan keputusan orang tua meninggalkan balita sendirian demi melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Sebagian warganet menilai bahwa keselamatan anak semestinya menjadi prioritas utama dalam kegiatan pendakian. Mereka juga menyoroti pentingnya perencanaan perjalanan yang mempertimbangkan kebutuhan seluruh anggota keluarga.

Di sisi lain, keberadaan pendaki lain yang bersedia menghampiri dan menemani balita tersebut mendapat perhatian dalam perbincangan di media sosial. Mereka memuji aksi para pendaki lainnya.

“Banyak ortu stress yaaa, demi konten demi story sampe ninggalin anak” tulis @ra**

“Gak usah punya anak aja bisa??????????? Ngerti gak takutnya anak seperti apa. Bagi yang lain yang masih belum puas masa mudanya, silakannnnnnn dipuas2in dulu,” timpal @sr**

“Untuk yang menolong menenangkan anak itu, kalian hebat! dan untuk adik kecilnya, tumbuh besar dan baik ya! dan semoga kelak ketika dewasa nanti kamu tidak seperti orang tuamu yang hanya demi keegoisannya rela meninggalkan dan menelantarkanmu di tempat asing, meskipun hanya beberapa jam,” puji netizen untuk para pendaki yang membantu balita tersebut.

4. Keselamatan Anak Harus Menjadi Prioritas

Mendaki gunung bersama anak kecil membutuhkan pertimbangan khusus, mulai dari kondisi cuaca, suhu lingkungan, kebutuhan makan dan minum, hingga pengawasan sepanjang perjalanan. Meninggalkan balita sendirian di dalam tenda juga berisiko karena anak belum mampu menangani keadaan darurat secara mandiri.

Kondisi cuaca yang berubah, suhu dingin, maupun situasi tak terduga dapat menambah risiko ketika anak tidak didampingi orang dewasa. Karena itu, orangtua yang membawa anak dalam kegiatan pendakian perlu memastikan ada orang dewasa yang tetap mendampingi dan bertanggung jawab atas keselamatan anak setiap saat.

Kejadian di Gunung Prau ini menjadi pengingat bahwa mencapai puncak bukanlah satu-satunya tujuan dalam pendakian. Keselamatan seluruh anggota rombongan, terutama anak-anak yang membutuhkan perlindungan ekstra, harus tetap menjadi prioritas utama.

Topik Menarik