75 Perupa Indonesia Sulap Bentuk Lingkaran Jadi Seni Penuh Makna, Intip Karyanya!
JAKARTA, iNews.id - Bentuk lingkaran yang tampak sederhana ternyata mampu melahirkan tafsir artistik yang begitu luas. Hal itu terlihat dalam pameran seni rupa kontemporer bertajuk 'Circles, Rounds & Spheres' yang digelar komunitas Seniman Muda Indonesia (SEMUI) di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Bertempat di 75 Gallery, pameran ini menghadirkan 75 perupa dari berbagai daerah di Indonesia dengan satu benang merah yang sama, yaitu mengeksplorasi bentuk bulat sebagai medium visual sekaligus gagasan artistik.
Sejak memasuki ruang galeri, pengunjung langsung disuguhi berbagai karya dengan pendekatan yang sangat beragam. Ada lukisan yang terasa seperti pusaran energi penuh warna, ada pula karya minimalis yang menghadirkan suasana hening dan kontemplatif. Sebagian seniman menjadikan lingkaran sebagai simbol spiritualitas, sementara lainnya menggunakannya untuk membahas identitas, ruang urban, hingga dinamika kehidupan modern.
Kurator pameran, Tubagus Andre Sukmana, mengatakan para perupa diberi tantangan untuk keluar dari pola visual konvensional selama proses kreatif yang berlangsung sekitar enam bulan.
"Biasanya seniman bekerja di bidang persegi atau bentuk-bentuk standar. Kali ini mereka harus berdialog dengan bidang lingkaran yang ternyata jauh lebih kompleks dalam komposisi," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (21/5/2026).
Menurut Andre, bentuk bundar menghadirkan pengalaman visual berbeda karena mata penonton tidak diarahkan ke sudut, melainkan terus bergerak mengelilingi pusat karya. Hal itu membuat setiap karya terasa lebih dinamis sekaligus personal.
Menariknya, angka 75 menjadi elemen unik dalam pameran ini. Sebanyak 75 seniman memamerkan karya mereka di 75 Gallery. Andre bahkan sempat berseloroh berharap 75 lukisan juga bisa terjual.
Namun di balik candaan tersebut, tersimpan konsep artistik yang cukup serius. Ketua SEMUI, Tato Kastareja, menyebut tema 'Circles, Rounds & Spheres' dipilih karena lingkaran dianggap sebagai simbol harmoni kehidupan—bentuk yang tidak memiliki awal maupun akhir.
"Lingkaran merepresentasikan siklus hidup yang terus bergerak. Tapi justru tema ini membuka ruang kebebasan yang luas bagi para seniman untuk bereksperimen," kata Tato.
Kebebasan itu terlihat dari keberagaman medium dan pendekatan visual yang digunakan para peserta. Ada yang bermain dengan tekstur tebal dan warna-warna eksplosif, ada pula yang memilih pendekatan monokrom dan simbolik.
Perwakilan manajemen 75 Gallery, Dwi Rahayu, menilai tema semacam ini masih jarang diangkat dalam pameran kolektif seni rupa Indonesia.
"Biasanya tema pameran lebih banyak mengangkat isu sosial atau politik secara langsung. Sementara kali ini justru berangkat dari bentuk dasar visual yang sangat universal," ujarnya.
Nuansa historis dalam pameran juga turut disinggung oleh Rachmat Budiman saat membuka acara. Dia mengaitkan karya berbentuk bundar dengan tradisi seni Italia yang dikenal sebagai Tondo, berasal dari kata Rotondo, yang pernah digunakan oleh maestro Renaisans seperti Michelangelo.
Tak hanya itu, bentuk lingkaran juga telah lama hadir dalam peradaban kuno, mulai dari ornamen Yunani hingga lukisan pada wadah-wadah dekoratif.
Bagi Rachmat, hal terpenting dari seni kontemporer bukan hanya soal estetika visual, tetapi juga kekuatan konsep di balik karya yang diciptakan.
“Seniman besar dunia selalu bekerja dengan landasan pemikiran yang kuat. Jadi karya seni bukan sekadar indah dilihat, tetapi juga punya gagasan,” tuturnya.
Melalui tangan 75 perupa Indonesia, lingkaran dalam pameran ini berubah menjadi bahasa visual yang cair dan penuh tafsir. Kadang spiritual, kadang jenaka, kadang politis, dan di saat lain terasa sangat personal.
Pameran 'Circles, Rounds & Spheres' berlangsung hingga 23 Mei 2026 di 75 Gallery. Publik dapat menikmati berbagai eksplorasi artistik yang membuktikan bahwa bentuk paling sederhana dalam geometri ternyata mampu menghadirkan kemungkinan visual yang nyaris tak terbatas.

