Sejarah Pemindahan Kebun Binatang dari Cikini ke Ragunan, Gajah Tertua Jadi Saksi Hidup
JAKARTA, iNews.id – Taman Margasatwa Ragunan masih menyimpan jejak sejarah panjang sejak pemindahan kebun binatang dari Cikini pada 1966. Sejumlah satwa berusia lanjut yang ikut dipindahkan saat itu hingga kini masih hidup dan dirawat dengan baik.
Humas Ragunan Bambang Wahyudi mengatakan, beberapa satwa senior tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kebun binatang terbesar di Jakarta itu. Dia menyebut keberadaan mereka sebagai memori hidup dari era Cikini.
"Masih ada beberapa memori yang tersimpan dari Cikini. Seperti Beruang Eropa itu masih hidup," kata Bambang kepada iNews di lokasi, Jumat (3/4/2026).
Selain itu, dia menyebut ada Gajah Sumatra yang usianya telah melampaui 50 tahun. Tak hanya itu, simpanse juga termasuk dalam deretan satwa tua yang masih bertahan hingga kini.
"Masih ada beberapa memori yang tersimpan dari Cikini. Seperti Beruang Eropa itu masih hidup. Kemudian Gajah Sumatera, usianya sudah di atas 50 tahun. Ada juga simpanse," ujarnya.
Nikmati Momen Libur Lebaran Lebih Tenang dengan Mister Aladin X DBS, Ada Diskon hingga Rp250.000!
Meski masih hidup, Bambang mengakui satwa-satwa tersebut sudah tidak memungkinkan untuk ditampilkan kepada publik. Faktor usia menjadi pertimbangan utama demi menjaga kondisi kesehatan mereka.
Dia menegaskan pihak pengelola tetap memberikan perawatan maksimal sebagai bentuk penghormatan terhadap satwa yang menjadi saksi sejarah tersebut.
"Kita masih rawat karena itu merupakan satu kenangan dari Cikini sampai sekarang," ucapnya.
Di sisi lain, Ragunan juga terus melakukan regenerasi satwa untuk menjaga keberlangsungan koleksi mereka. Upaya ini dilakukan melalui program pengembangbiakan yang berkelanjutan.
Terbaru, lahir bayi orang utan berusia tiga bulan serta primata jenis gibon di Pusat Primata Schmutzer. Bayi orang utan tersebut kini masih dalam tahap karantina dan berada dalam pengawasan ketat bersama induknya.


