Sejarah Hotel Sultan, Problematika Pembangunan Hingga Kenangan Indah S

Sejarah Hotel Sultan, Problematika Pembangunan Hingga Kenangan Indah S

Travel | BuddyKu | Sabtu, 14 Oktober 2023 - 11:22
share

Sejarah hotel sultan kini kembali dikuak, awal tahun 2023 Hotel Sultan menjadi bahan pembicaraan setelah pemerintah take over pengelolaan hotel di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) tersebut. PT Indobuildco buukanlah sebagai pengelola hotel menyusul keberhasilan kemenangan pemerintah dalam gugatan putusan Peninjauan Kembali (PK) atas masalah lahan Blok 15 Kawasan GBK.

Putusan tersebut bisa dianggap negara bisa mengatur kembali Hotel Sultan setelah hampir limapulu tahun pengelolaannya ada di pihak swasta. Sayangnya pengelola hotel yang megatasnamakan PT Indobuildco menuding langkah Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) mengambil alih kawasan Hotel Sultan Jakarta menyalahi undang-undang (UU) dan terlalu prematur.

Ternyata menelisik balik bahwa sejarah hotel Sultan yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Tanah Abang, Jakarta Pusat atau bersebelahan dengan kawasan Semanggi ini ternyata sudah bermasalah sedari awal pembangunan yaitu tahun 1970-an.

Mengutip Majalah Gatra tahun 2005, ide pembangunan Hotel Sultan mengemuka ketika Jakarta dikabarkan bakal jadi tuan rumah konferensi pariwisata se-Asia Pasifik. Pesertanya tak main-main, mencapai 3.000 orang.

Catatan dari sejarah hotel Sultan ketika itu memang ibukota Jakarta tidak banyak memiliki hotel kelas internasional. Ali Sadikin, sebagai Gubernur DKI Jakarta ketika itu melayangkan suratkepada peruahaan minyak dan gas Pertamina agar membangun hotel guna menyambut hingga memberikan pelayanan kepada para tamu tahun 1971.

Permintaan itu disampaikan putra daerah Jakarta yang menjadi Gubernuh ketika itu Ali Sadikin lantaran Pertamina ketika itu sedang berada di masa kejayaan. Saat itu tahun 1970an Pertamina "gagah` karena meningkatnya harga minyak dunia di pasar global.

Di sisi lain, aturan memang tidak memungkinkan swasta membangun di kawasan GBK. Permintaan itu pun disetujui Direktur Utama Pertamina, Ibnu Sutowo (1968-1978). Hotel Sultan mulai dibangun tahun 1973 di kawasan Senayan dengan bendera PT Indobuildco yang saat itu berasal dari anak usaha Pertamina sebagai perusahaan pemerintah yang akan emngelola hotel Sultan (ketika itu Hilton).

Ali Sadikin awalnya percaya PT Indobuildco adalah anak usaha Pertamina. Namun ketika hotel berdiri tahun 1976, dia baru menyadari bahwa PT Indobuildco bukan bagian dari BUMN tersebut. Saya baru tahu Indobuildco itu bukan Pertamina. Iya, saya tertipu, ujar Ali, dikutip dari arsip Detik.com, 30 Januari 2007 menukil sejarah hotel Sultan.

Bila ditelisik, Indobuildco dan Pertamina memang terlihat sekali berhubungan kental. Secara struktur kepemimpinan perusahaan Indobuildco adalah Pontjo Sutowo sebagai pemilik, dia adalah anak keempat Direktur Utama Pertamina, Ibnu Sutowo.

Alih-alih dikelola pemerintah, hotel itu akhirnya dikelola keluarga Sutowo dengan skema Hak Guna Bangunan (HGB). Awalnya Hotel Sultan bernama Jakarta Hilton International yang berdiri mulai 1976 dan tak semua lahan GBK digunakan, hanya separuhnya. Dan seriring berjalan PT Indobuildco disematkan alih-alih pengelola telah bekerja sama dengan jaringan hotel internasional, Hilton Hotels Corporation.

Sejarah hotel Sultan juga diungkap melalui buku Kiprah Keluarga Ibnu Sutowo, Hotel Sultan memiliki 1.104 kamar, sembilan ruang banquet dan satu ballroom, fasilitas olahraga dan rekreasi, serta beragam fasilitas hotel lima lainnya. Saat itu tak ada yang berani lantang memprotes pengelolaan hotel oleh Indobuildco.

Hal itu tak lepas dari kedekatan Ibnu Sutowo dengan Presiden Soeharto. Sutowo bahkan pernah lolos dari jeratan hukum terkait kasus pengelolaan Pertamina.

Mengutip Richard Robinson dalam Power and Economy in Suharto`s Indonesia (1990), Ibnu Sutowo dikenal sebagai raja minyak dan tangan kanan Soeharto. Tak sedikit proyek besar akhirnya mendapuk Sutowo atas perintah Soeharto, termasuk Hotel Hilton yang kini menjadi Hotel Sultan.

Kini, sejarah hotel Sultan masuk babak baru karena keberadaan Indobuildco di Hotel Sultan mulai digoyang ketika HGB mereka habis tahun 2003. Indobuildco sempat mengajukan perpanjangan HGB pada 10 Januari 2002 yang ditolak Badan Pengelola GBK.

Badan Pertanahan Nasional (BPN) DKI Jakarta malah menerbitkan SK Perpanjangan HGB pada 13 Juni 2002, dengan jangka waktu 20 tahun terhitung 4 Maret 2003. Kepala Kantor Wilayah BPN DKI Jakarta Robert J Lumempouw kemudian dijatuhi hukuman penjara tiga tahun. Nama hotel berubah menjadi The Sultan Jakarta setelah putus kontrak dengan Hilton International pada 2006.

Meski berubah nama, Pontjo Sutowo masih mendominasi pengelolaan. Perpanjangan HGB Hotel Sultan resmi berakhir 4 Maret 2022 lalu. Pemerintah pun tampak enggan kembali kecolongan. Negara berusaha melalui sejumlah tindakan pengambilalihan, salah satunya membuat Tim Transisi Pengelolaan Blok 15 Kawasan GBK untuk memanfaatkan kembali area tersebut bagi kepentingan negara.

Kenangan di Hotel Sultan

Hotel Sultan memiliki berbagai cerita dan legenda yang menambah pesona dan misteri. Beberapa tamu terkenal yang menginap di hotel ini termasuk tokoh sastra terkenal, musisi terkemuka, dan bahkan beberapa anggota kerajaan. Cerita-cerita ini telah menjadi bagian dari warisan hotel, menceritakan kisah-kisah tak terlupakan yang tetap hidup dalam ingatan semua yang mengunjungi tempat ini.

Sejarah hotel Sultan tak hanya dari testimonila dan cerita kenangan yang pernah dirasakan oleh pengunjung ketika itu, tetapi juga pelayanan di Hotel Sultan tidak ada duanya.

Para stafnya yang ramah dan berpengetahuan tinggi siap memenuhi kebutuhan setiap tamu, menciptakan pengalaman yang istimewa bagi mereka yang menginap. Dari restoran mewah hingga layanan kamar yang penuh perhatian, setiap aspek dari kunjungan di Hotel Sultan dipelihara dengan cermat.

Bahkan suratkabar nasional di Indonesia seperti Kompas.id dan juga MediaIndonesia.com juga sempat mengabadikan kenangan yang pernah terjadi yaitu ketika merayakan kemenangan bulan ramadhan dengan kemeriahan.

Ketika itu The Sultan Hotel & Residence Jakarta mengundang para tamu agar bisa merasakan kebersamaan berbuka puasa dalam nuansa Jawa sembari menikmati hidangan prasmanan dengan suasana pasar tradisional disertai ikon Ramadan `bedug` ala penduduk daerah.

Hotel Sultan dalam event khusus tersebut juga menawarkan ruang terbuka yang estetik agar seluruh tamu bisa merasakan sajian Ramadan di tepi infinity pool, Kudus Hall & Sultan Pizzeria meskipun saat pandemi.

Tak mau melewatkan kenangan tentang sejara hotel Sultan yang pernah dirasakannya, pemilik akun sosial media TiTok lonasindy26 mengunggah konten yang memberikan sedikit tema yaitu kenangan apa yang pernah dirasakan di Hotel Sultan pada jamannya, dan ada 31 komentar yang semuanya membrikan testimonila tentang kenangan yang pernah diraskan ketika di hotel Sultan.

Topik Menarik