Loading...
Loading…
4 Fakta di Balik Sejarah Peristiwa G30S PKI yang Sebenarnya

4 Fakta di Balik Sejarah Peristiwa G30S PKI yang Sebenarnya

Powered by BuddyKu
Travel | Indozone | Kamis, 29 September 2022 - 16:06

Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) yang diprakarsai oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bagi bangsa Indonesia.

Peristiwa tersebut menewaskan 7 korban, 6 di antaranya merupakan jenderal, sedangkan 1 orang lagi adalah perwira TNI Angkatan Darat.

Ketujuh korban G30S/PKI tersebut diculik dan dibunuh dalam waktu satu malam, yakni dari tanggal 30 September sampai 1 Oktober 1965.

Kemudian jasad mereka dibuang ke dalam sebuah sumur yang terletak di Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Di balik peristiwa nahas itu, ternyata banyak fakta tentang G30S/PKI yang sebenarnya terjadi.

FaktaG30S/PKI yang Sebenarnya

Ada beberapa fakta G30S/PKI yang sebenarnya terjadi di balik peristiwa paling bersejarah tersebut. Simak rangkuman INDOZONE di bawah ini.

1. Terjadi karena konflik internal Angkatan Darat

fakta peristiwa g30spki
Fakta peristiwa G30S/PKI(kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Berdasarkan Cornell Paper (1971) yang ditulis oleh sejarawan Benedict ROG Anderson dan Ruth McVey dari Cornell University, peristiwa G30S/PKI terjadi akibat konflik internal Angkatan Darat.

Menurut lipi.go.id , beberapa perwira Angkatan Darat bersekongkol dengan anggota Biro Khusus PKI dan terlibat dalam aksi G30S/PKI.

Sejarawan Harold Crouch dalam Army and Politics in Indonesia (1978), turut menyebutkan bahwa Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) mengalami perpecahan.

Sehingga Angkatan Darat terbagi menjadi dua kelompok, yakni faksi tengah yang dipimpin Letjen TNI Ahmad Yani dan faksi kanan Jenderal TNI A.H. Nasution serta Mayjen TNI Soeharto.

Oleh karena itu, G30S/PKI dilakukan faksi kanan untuk menyerang faksi tengah demi merebut kekuasaan Soekarno.

2. Pelaku bukan hanya PKI

fakta g30spki yang sebenarnya
Fakta G30S/PKI yang sebenarnya, pelaku bukan hanya PKI (kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia beranggapan bahwa Gerakan 30 September, hanya dilakukan oleh PKI.

Pada kenyataannya, terdapat oknum-oknum lain yang terlibat aksi tersebut, salah satunya Central Intelligence Agency (CIA).

Akademisi kajian sejarah, Dale Scott dan Geoffrey Robinson menyatakan bahwa CIA merupakan utusan dari Amerika Serikat.

Melihat Presiden Soekarno yang dekat dengan komunis, CIA melakukan konsolidasi dengan Angkatan Darat.

Tujuannya, agar PKI terprovokasi untuk melakukan kudeta secara cepat terhadap pemerintahan orde lama yang dipimpin Soekarno.

3. Keterlibatan Presiden Soekarno

fakta sebenarnya g30spki
Fakta sebenarnya G30S/PKI melibatkan Presiden Soekarno (himasfpipsupi.wordpress.com)

Fakta G30S/PKI yang cukup mencengangkan salah satunya yaitu adanya keterlibatan Presiden Soekarno dalam peristiwa ini.

Hal tersebut tertuang dalam buku berjudul The Devious Dalang: Sukarno and So Called Untung Putsch: Eyewitness Report karya Bambang S. Widjanarko (1974).

Sekitar bulan September 1965, muncul isu bahwa petinggi Angkatan Darat ada yang tidak puas terhadap Soekarno, dan berniat untuk menggulingkannya.

Soekarno pun memerintahkan Letkol Untung selaku Komandan Batalyon 1 Cakrabirawa untuk menangkap mereka, bukan membunuh.

Akan tetapi, saat operasi penangkapan itu dilaksanakan, beberapa oknum yang tersulut emosi justru menghabisi nyawa para jenderal.

4. Soeharto mengetahui rencana G30S/PKI

fakta g30spki
Fakta Soeharto mengetahui rencana G30S/PKI (id.wikipedia.org)

Dalam Pledoi Kolonel A. Latief: Soeharto Terlibat G30S (1999), dikatakan bahwa Kolonel Abdul Latief saat itu menjabat sebagai Komandan Brigade Infanteri I Jaya Sakti Komando Daerah Militer V.

Pada tanggal 28 September 1965, dua hari sebelum G30S/PKI, Kolonel Abdul Latief sempat mengunjungi Soeharto di kediamannya di Jalan Haji Agus Salim, Jakarta.

Ia menyampaikan kepada Soeharto bahwa akan ada rencana kudeta Dewan Jenderal yang dilakukan pada tanggal 30 September 1965.

Empat jam sebelum G30S/PKI dilaksanakan, Latief kembali melaporkan operasi tersebut kepada Soeharto.

Namun, Soeharto tidak melarang atau memberi tahu Ahmad Yani atau A.H. Nasution demi mencegah operasi itu.

Itulah sebabnya, dalam Kesaksianku tentang G30S (2000) oleh Soebandrio, G30S/PKI dianggap sebagai \'kudeta merangkak\' Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan Soekarno.


Demikianlah penjelasan mengenai fakta G30S/PKI yang sebenarnya terjadi berdasarkan penelitian para sejarawan dalam buku.

Artikel Menarik Lainnya:

Original Source

Topik Menarik

{
{
{
{