Sejarah Masuknya Operasi Plastik di Indonesia

Sejarah Masuknya Operasi Plastik di Indonesia

Travel | BuddyKu | Senin, 8 Agustus 2022 - 14:52
share

DI Indonesia, praktik operasi plastik berawal dari masuknya ilmu pengetahuan medis dari Barat. Pada awalnya, operasi plastik ditujukan untuk perbaikan bagi korban perang yang mengalami luka bakar.

Pengetahuan tentang prosedur operasi plastik ini dibawa oleh ahli bedah Austro-Hungaria yang tinggal di Hindia Belanda. Para ahli tersebut datang karena bergabung dengan Korps Medis Angkatan Darat usai Perang Dunia I. Mereka melakukan operasi pada korban. Umumnya kasus yang ditemui pada saat itu adalah kerusakan pada wajah, bibir sumbing, luka bakar, hingga kanker kulit.

Berdasarkan jurnal bertajuk A Brief History of The Development of Plastic Surgery in The Netherlands East Indies, disebutkan bahwa Robert Lesk pada 1927 diangkat sebagai profesor bedah serta ortopedi pertama di Batavia.

operasi plastik

Pada 1909, ia masuk KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dan ditugaskan di Jawa. Lesk diminta untuk mengajar ilmu bedah serta dermatologi di sekolah kedokteran STOVIA hingga 1914.

Selama mengajar, Lesk menulis Jurnal Medis Hindia Belanda Timur yang berisi tentang bedah plastik untuk menangani kanker kulit, operasi kepala serta leher, hingga pengobatan bibir sumbing serta langit-langit mulut. Berdasarkan obituari Lesk pada De Sumatera Post tahun 1937, setidaknya Lesk telah mengoperasi 30 orang di setiap kota yang dikunjunginya.

Kasus yang sering ditemui adalah rekonstruksi wajah serta pencangkokan kulit. Kasus tersebut ditangani oleh Tiddo Reddingius, seorang profesor, setelah Lesk meninggal. Reddingius yang bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini telah membantu pengobatan tentara yang membutuhkan operasi dan perawatan luka bakar. Bahkan Reddingius juga memperkenalkan anestesi dengan gas nitro oksida di Batavia.

Kemudian, operasi plastik di Indonesia dikembangkan oleh Profesor Moenadjat Wiraatmadja. Ia lulus sebagai ahli bedah dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada 1958. Di tahun yang sama, pada akhir 1958, usai keberhasilan menyelenggarakan kursus bedah mikro dasar pertama di Jakarta, tim bedah plastik RSCM yang terdiri dari dr Sidik Setiamihardja, dr Chaula L. Sukasah serta dr Gentur Sudjatmiko mempelopori kasus bedah mikro pertama, yang termasuk replantasi tungkai atas mayor pertama hingga free flap pertama.

Moenadjat Wiraatmadja lalu melanjutkan pendidikannya sebagai ahli bedah plastik di Universitas Washington dan Rumah Sakit Barnes di Amerika Serikat hingga 1959. Ketika kembali ke Indonesia, Profesor Moenadjat mulai mendedikasikan ilmunya untuk pelayanan serta pendidikan bedah plastik bagi mahasiswa kedokteran serta peserta pelatihan bedah di FKUI/RSCM.

Ilmu bedah plastik mulai berdiri sebagai suatu ilmu tersendiri sejak April 1959. Pada 1980, Prof Moenadjat meninggal dunia dan posisi kepala divisi bedah plastik RSCM digantikan oleh Sidik Setiamihardja.

Program pelatihan bedah plastik FKUI resmi didirikan pada 1989 dengan SK No. 107/DIKTI/Kep/1989 pada 13 November 1989 oleh Direktur Jenderal Tinggi Pendidikan, Sukadji Ranuwihardjo. Berdasarkan SK tersebut, maka pada 1 Januari 1990 program pelatihan ini mulai diselenggarakan kegiatan pendidikan dan pembelajaran terpadu yang dikombinasikan dengan layanan medis operasi plastik untuk pasien.

Terdapat lima program pelatihan bedah plastik rekonstruktif dan estetika di Indonesia. Seluruh program pendidikan berbasis universitas ini diselenggarakan oleh Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Padjajaran, Universitas Udayana, dan Universitas Syiah Kuala.

Saat ini, terdapat organisasi Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (PERAPI) yang merupakan kumpulan dari dokter ahli bedah plastik di seluruh Indonesia. PERAPI didirikan pada 8 November 1980 serta didaftarkan di notaris pada 16 Maret 1982 oleh 11 orang pendiri. Organisasi bertaraf internasional yang dibentuk sebagai tempat untuk pihak yang terkait dengan bedah plastik adalah International Confederation of Plastic Reconstructive Surgery (IPRS). Sedangkan Asia Pasific Section of IPRS serta ASEAN Federation of Plastic Surgery IPRS merupakan organisasi bertaraf regional bagi dokter ahli bedah.

Topik Menarik