Pro Kontra Elon Musk Kuasai Saham Twitter, Jadi Lebih Baik atau Jadi Wadah Buzzer?
Berita mengenai kepemilikan 9,2 persen saham Twitter (TWTR) oleh Elon Musk membuat publik gempar, pasalnya Elon Musk berulang kali dikecam terkait cuitanyya yang kontroversial. Musk juga kerap kali mengkritik Twitter yang dianggap Musk membungkam hak penggunanya dalam mengekspresikan pendapat mereka.
Empat karyawan Twitter berbicara kepada Reuters , mengatakan mereka khawatir mengenai kemampuan yang Musk miliki untuk memengaruhi kebijakan \'pengguna yang kasar dan konten provokasi\' Twitter.
Para karyawan mengemukakan pendapat mereka mengenai moderasi konten yang dinilai dapat melemahkan upaya Twitter selama ini dalam menjadikannya sebagai media sosial yang mewadahi wacana yang sehat. Mereka juga menyoroti kemungkinan Twitter akan berkembang menjadi wadah trolling dan serangan massa.
Sebagai informasi, Elon Musk menjadi salah satu pengguna Twitter yang tidak menolak larangan Trump di Twitter. Menurut Musk, banyak orang tidak akan senang dengan ide perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS) yang bertindak sebagai penengah de facto kebebasan berbicara.
Keempat karyawan Twitter juga mengkhawatirkan keterlibatan Musk di Twitter pad akhirnya akan mengubah budaya perusahaan Twitter, yang saat ini menghargai inklusivitas.
Analis Guidehouse Insights yang pernah meliput gaya kerja Musk di Tesla, Sam Abuelsamid mengatakan hanya masalah waktu Musk akan membawa kembali Trump ke Twitter.
"Saya tidak akan terkejut jika Twitter memulihkan akun Trump sekarang karena Elon memiliki hampir 10% saham perusahaan," ujarnya pada Reuters.
Pada sisi lain CEO Twitter Parag Agrawal justru menyambut baik kehadiran Musk yang dianggap kerap memberikan kritikan terhadap performa Twitter.
"Orang yang amat percaya sekaligus kritikus yang intens terhadap layanan, dan ini percis seperti yang kami butuhkan di Twitter dan di ruang rapat, untuk membuat kami lebih kuat dalam jangka panjang," ujar Agrawal.
Elon Musk bahkan digadang-gadang oleh analis Wedbush Dan Ives akan mengambil sikap agresif dan menciptakan sejumlah gebrakan baru.
"Kami percaya Musk bergabung dengan Twitter akan mengarah pada sejumlah inisiatif strategis yang dapat mencakup berbagai kemungkinan jangka pendek dan panjang untuk perusahaan yang masih berjuang dalam perlombaan senjata media sosial," ujarnya.




