Cerita Bisnis Batik Kinasih, Gunakan Teknik Ciprat, Berdayakan Perajin Disabilitas
IDXChannel—UMKM Kinasih Abyudaya menjalankan bisnis batik dengan teknik dan inisiatif yang tak biasa. Usaha kecil ini mulanya dibentuk bukan sebagai usaha komersial, melainkan untuk membantu perajin disabilitas.
Kinasih budaya menamai produknya sebagai ‘batik ciprat.’ Teknik yang dipakai sederhana. Warna dipercikkan ke kain hingga membentuk corak yang tak selalu bisa ditebak. Tak ada keharusan untuk menghasilkan motif yang seragam.
Keindahan kain-kain tersebut lahir dari tangan-tangan istimewa yang tak selalu mampu menggambar garis lurus atau merangkai motif rumit. Dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Batik Kinasih dari CV Kinasih Abyudaya membawa kisah tentang para penyandang disabilitas yang menemukan harapan melalui percikan warna.
Karya UMKM asal Kabupaten Blitar, Jawa Timur, ini ikut dipamerkan di Paviliun Pilihan Busan pada ajang Trade Expo Indonesia 2026 pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten.
Pemilik Batik Kinasih, Dwi Mawadati, mengisahkan bahwa kain-kain batik tersebut mulanya tak dirancang untuk mencari keuntungan. Sebagian pembuatnya merupakan individu dengan sindrom Down, disabilitas intelektual, dan disabilitas mental.
Mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang mampu mencipratkan warna tetapi kesulitan menyelesaikan proses berikutnya. Ada yang gemar mewarnai, sementara yang lain lebih mampu membantu mencuci kain. Di Batik Kinasih, setiap kemampuan mendapat tempat.
“Teman (yang) itu bisa menciprat, hanya menciprat saja. Kalau yang suka mewarnai, hanya mewarnai saja. Kemudian, yang bisa mencuci, hanya mencuci saja, itu yang mereka bisa lakukan. Selalu dengan pendampingan,” kata Dwi dalam laman resmi Kemendag (22/10/2026).
Sebelum pandemi Covid-19, para penyandang disabilitas ini berkumpul dan membatik bersama untuk sekadar berekspresi. Namun, muncul persoalan lain setelah berhasil membuat produk.
“Mereka bisa membuat tapi tidak bisa menjual. Maka, kami membuat sebuah perkumpulan untuk menjualkan. Tujuannya, agar mereka mandiri secara ekonomi dan mandiri secara sosial,” tutur Dwi.
Tiba di Indonesia, Calvin Verdonk dan Dean James Langsung Gabung Latihan Timnas Indonesia Hari Ini
Dari perkumpulan itulah, perlahan tumbuh sebuah usaha. Produk diterima masyarakat, pembeli berdatangan, bahkan Organisasi Perangkat Daerah di Kabupaten Blitar turut menggunakannya.
Selembar kain yang dahulu dianggap sebagai hasil kegiatan untuk menyalurkan emosi telah menjelma menjadi sumber penghidupan. Batik Kinasih pun mengembangkan produknya menjadi tas, mukena, sajadah, hingga sarung.
Sejumlah individu yang didampingi bahkan mulai memiliki usaha sendiri. Tiga orang dengan sindrom Down, misalnya, telah mengembangkan merek batik dengan bantuan keluarga.
“Ada tiga teman dengan sindrom Down yang dengan bantuan keluarganya sudah mempunyai jenama sendiri,” ungkap Dwi.
Kesempatan kembali datang melalui layar sebuah tautan di media sosial yang mengajak untuk ikut kurasi Product Placement Pilihan Busan. Program inisiatif Menteri Perdagangan Budi Santoso ini ditujukan untuk membantu promosi produk UMKM.
Ketidaktahuan itu tak menghalangi rasa ingin mencoba. Batik Kinasih mengikuti proses kurasi dengan harapan agar karya para penyandang disabilitas dari Blitar makin dikenal.
Dari sebuah tautan di media sosial, terbukalah kesempatan untuk memperkenalkan Batik Kinasih melalui TEI 2026 melalui Paviliun Product Placement Pilihan Busan. Batik Kinasih juga berharap partisipasinya dalam TEI 2026 dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk melihat kemampuan, bukan semata-mata keterbatasan.
(Nadya Kurnia)










