Pengembangan Bioethanol untuk Campuran BBM Bisa Serap 1,1 Juta Tenaga Kerja

Pengembangan Bioethanol untuk Campuran BBM Bisa Serap 1,1 Juta Tenaga Kerja

Terkini | idxchannel | Jum'at, 9 Oktober 2026 - 17:24
share

IDXChannel – Program transisi energi melalui penggunaan bioethanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) ke depan dinilai memiliki prospek menjanjikan. Selain bisa membuka jalan bagi transisi energi ke era lebih bersih, bioethanol juga akan menjadi sumber ekonomi baru yang berkelanjutan. 

Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani mengungkapkan, pengembangan bioethanol ke depan akan memiliki dampak positif mulai dari peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja hingga penghematan devisa. 

Berdasarkan kajian Agrinas Palma, dengan mengembangkan lahan 1 juta hektare untuk penanaman bahan baku feedstock, akan menghasilkan produksi bioethanol 5 juta kilo liter (KL) per tahun dan menciptakan lapangan kerja hingga 1,1 juta orang. Selain itu, dampak yang lebih makro akan terasa dari adanya penghematan devisa sebesar Rp93,6 triliun dari pengurangan impor BBM.

“Bioethanol ini juga akan mendatangkan innvestasi hingga Rp142 triliun di sektor on-farm dan off-farm. Selain itu akan ada penyerapan tenaga kerja lokal serta menumbuhkan ekonomi yang lebih inklusif karena melibatkan perkebunan masyarakat,” kata Ghani saat diskusi di Jakarta, ditulis Jumat (9/10/2026).

Selain nilai ekonomi yang tumbuh, program bioethanol juga akan memberikan dampak positif kepada lingkungan. Ghani menyebut, pemanfaatan bahan baku bioethanol akan mendukung berkembangnya energi terbarukan, mendorong ekonomi sirkuler, mengurangi emisi dan pertanian berkelanjutan.

Dia menambahkan, potensi kebutuhan bioethanol nasional didasari pada kebutuhan bensin nasional yang mencapai 37,6 juta KL per tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 60 persen pasokan bensin berasal dari impor.

Sehingga, dengan pengembangan program pencampuran bioethanol 20 persen (E20), maka terdapat kebutuhan 7,5 juta KL bioethanol per tahun. 

“Kami di Agrinas Palma Nusantara menargetkan pengembangan 1 juta lahan produksi feedstock yang diproyeksi mengjasilkan 5 juta KL bioethanol per tahun,” kata Ghani.

Menurut dia, Agrinas Palma memiliki strategi pengembangan multi feedstock untuk diversifikasi supply dan mengurangi risiko. Caranya dengan mengembangkan bioetanol yang terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk menciptakan kelayakan bisnis yang berkelanjutan.

Dalam kajian Agrinas Palma Nusantara, terdapat sejumlah komoditas yang potensial dikembangkan mulai dari singkong, sorgum hingga jagung. “Singkong paling potensial sebagai feedstock utama karena produktivitas etanolnya relative tinggi, kompetisi dengan pangan lebih rendah, dan cukup adaptif terhadap berbagai kondisi lahan,” katanya. 

Adapun Sorgum bisa menjadi alternative feedstock karena siklus tanam pendek, toleran terhadap kekeringan, dan cocok dikembangkan pada lahan marginal. Sedangkan jagung memiliki supply chain paling matang, tetapi penggunaannya perlu dibatasi karena kompetisinya tinggi dengan kebutuhan pangan dan pakan.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik