Banjir Dahsyat Nepal-China: Korban Tewas Jadi 362 Orang, 1.400 Lainnya Hilang

Banjir Dahsyat Nepal-China: Korban Tewas Jadi 362 Orang, 1.400 Lainnya Hilang

Terkini | inews | Jum'at, 28 Agustus 2026 - 03:05
share

KATHMANDU, iNews.id - Korban tewas dan hilang akibat banjir bandang dahsyat yang menerjang Nepal dan China, Rabu (26/8/2026), telah mencapai 362 orang. Korban hilang juga terus bertambah seiring masuknya laporan, yakni lebih dari 1.400 orang di Nepal maupun wilayah otonomi khusus Tibet, China, dibandingkan sebelumnya sekitar 1.300 orang.

Dari jumlah korban hilang tersebut, 500 lebih di antaranya adalah warga asing.

Selain melakukan trekking di pegunungan Himalaya, para turis asing yang menjadi korban adalah peziarah Hindu yang hendak menuju Gunung Kailash di Tibet yang disucikan dan berselimut salju.

Menteri Dalam Negeri Nepal, Sudhan Gurung, mengatakan fokus utama tim SAR adalah mengevakuasi korban selamat. Sebelumnya tim penyelamat menemukan 100 turis asal India, sebagian besar peziarah, dan 25 pekerja asal China di wilayah paling parah terdampak banjir yakni sekitar Trishuli.

Kepolisian Nepal menyatakan telah mengevakuasi 359 jenazah dari beberapa distrik, namun tak menjelaskan apakah ada warga asing di antara mereka.

"Segalanya telah musnah," ujar Omkar Joshi (35), seorang petugas bea cukai Nepal yang diselamatkan dari puncak bukit di kota perbatasan Timure, kepada AFP, dikutip Jumat (28/8/2026).

"Ini adalah kuburan raksasa. Yang tersisa hanyalah pasir dan kerikil yang basah kuyup oleh darah manusia," ujarnya lagi, menggambarkan kengerian banjir yang juga disebut sebagai gelombang tsunami di darat itu.

Sementara itu, 910 orang, termasuk 517 turis asing, dilaporkan hilang kontak di Nepal. Pemerintah China menyatakan, 100 warganya hilang di Nepal.

Warga asing yang kehilangan kontak tersebut antara lain berasal dari India, Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, demikian data Badan Pariwisata Nepal.

Malaysia kehilangan lebih dari 50 warganya, kondisi mereka belum diketahui. Sementara Singapura kehilangan sekitar 10 warga dalam bencana itu.

Di China, media pemerintah melaporkan tanah longsor di Pelabuhan Gyirong, Tibet, menewaskan tiga orang. Disebutkan pula, 558 orang, termasuk 260 warga asing, hilang.

Sejarawan lingkungan dari Universitas La Trobe, Australia, Ruth Gamble, menggambarkan kedahsyatan banjir yang tak hanya membawa air bah tapi juga lumpur.

Hantaman lumpur yang membawa puing-puing pepohonan, batu pegunungan, maupun rumah-rumah yang hanyut secara tiba-tiba bergerak sejauh hampir 170 km ke arah selatan hingga masuk wilayah Nepal.

Rasuwa, terletak di bagian utara Nepal, merupakan distrik pertama yang terdampak hantaman banjir. Namun laporan korban jiwa juga datang dari wilayah Chitwan, jauh di selatan Nepal, yang berbatasan dengan India.

Para ahli memperingatkan risiko banjir susulan. Gelombang menyapu kota-kota di bawah atau lembah dengan lumpur pekat, menghanyutkan rumah-rumah, menghancurkan jembatan dan bendungan, serta menyeret ratusan kendaraan layaknya mainan.

Topik Menarik