Industri Logistik Sumbang Rp1.700 Triliun di 2026, Perhatikan Tantangannya
IDXChannel—Kontribusi sektor logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencatatkan pertumbuhan signifikan.
Merujuk pada data Supply Chain Indonesia (SCI), kontribusi industri transportasi dan pergudangan terhadap PDB hingga tahun ini bakal mencapai Rp1.700 triliun, naik dibandingkan dengan 2025 yang mencapai Rp1.500 triliun.
Meski demikian, besarnya potensi tersebut masih dihadapkan pada sejumlah risiko, termasuk ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik dunia yang diperkirakan mengganggu kelancaran arus perdagangan.
Menghadapi dinamika yang tidak menentu tersebut, kolaborasi antarpemangku kepentingan di sektor logistik menjadi kunci utama untuk meredam volatilitas dan memastikan rantai pasok global tetap berjalan.
“Supply chain yang tangguh bukan supply chain yang tidak pernah mengalami gangguan, tetapi yang mampu mendeteksi risiko lebih awal, merespons lebih cepat, dan memulihkan operasi dengan dampak serendah mungkin,” kata Founder & CEO SCI Setijadi dalam keterangannya, dikutip Minggu (28/6/2026).
Setijadi menyampaikan fakta tersebut di sela-sela diskusi pada forum CKB Supply Chain Forum (CSCF) 2026 di Jakarta, Kamis (26/6/2026).
Pada kesempatan tersebut, Setijadi mengingatkan agar pelaku usaha memperkuat pemahaman fundamental terkait manajemen risiko yang harus terintegrasi ke dalam operasi harian, mulai dari pengadaan, persediaan, pergudangan, transportasi, kepabeanan, hingga distribusi dan pelayanan pelanggan.
SCI juga merekomendasikan lima pilar ketahanan rantai pasok, yaitu risk governance, visibility, flexibility, collaboration, dan continuous improvement.
Implementasinya mencakup pemetaan risiko end-to-end, penentuan prioritas berdasarkan dampak bisnis, penyusunan SOP kontingensi, pemasok dan rute alternatif, persediaan strategis, sistem peringatan dini, serta pemanfaatan digital control tower.
Sekadar informasi, CKB Supply Chain Forum (CSCF) merupakan forum diskusi yang digelar oleh anak usaha PT ABM Investama Tbk (ABMM), yakni PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistik), dan diikuti oleh para stakeholder di industri logistik, termasuk otoritas kepabeanan.
Direktur CKB Logistics Iman Sjafei mengatakan, dinamika geopolitik saat ini memicu volatilitas jalur perdagangan yang secara langsung menghambat rantai pasok barang.
Menurutnya, ketegangan geopolitik dunia telah menciptakan hambatan nyata sehingga melalui CKB Supply Chain Forum 2026, pihaknya mengajak seluruh pihak berkolaborasi merumuskan solusi logistik yang tangguh, responsif, dan terintegrasi.
“Sinergi ini mutlak diperlukan agar kita dapat memitigasi risiko, menghadapi berbagai skenario terburuk, dan memastikan roda distribusi tetap berputar lancar,” ucap Iman.
Sementara itu, Direktur Logistik dan Distribusi CKB Logistics, Ety Puspitasari, menambahkan bahwa manajemen rantai pasok industri strategis perlu segera bertransformasi. Pendekatan operasional tidak bisa lagi hanya berpusat pada efisiensi biaya (efficiency-driven), tetapi harus beralih mengutamakan ketangguhan (resilience-driven).
“Resilience-driven tidak dicapai dengan hanya menghindari gangguan secara mutlak saja, melainkan melalui desain jaringan operasional yang fleksibel dan kolaborasi erat di seluruh ekosistem logistik. Tujuannya agar pemulihan bisnis dapat berjalan jauh lebih cepat atau recover faster saat krisis terjadi,” ucap Ety.
Ety memaparkan, untuk menaklukkan tantangan operasional, perusahaan harus mengimplementasikan manajemen risiko rantai pasok yang menyeluruh. Hal ini berpijak pada kerangka kerja terintegrasi yang mencakup tata kelola risiko (risk governance), visibilitas, fleksibilitas, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).
(Nadya Kurnia)









