Terungkap! Netanyahu-Trump Terlibat Diskusi Tegang soal Serangan Lanjutan ke Iran
WASHINGTON, iNews.id - Media Amerika Serikat mengungkap adanya diskusi tegang antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump terkait rencana serangan lanjutan terhadap Iran. Netanyahu dilaporkan kecewa setelah Trump memutuskan menunda serangan yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 19 Mei.
Menurut laporan CNN, percakapan kedua pemimpin berlangsung selama sekitar 1 jam dan berjalan tegang. Netanyahu disebut tetap mendesak Washington melanjutkan serangan terhadap Iran sebagaimana rencana awal, sementara Trump memilih menunda operasi militer tersebut setelah mendapat masukan dari negara-negara Teluk dan para pejabat pemerintahannya.
Dalam percakapan telepon itu, Netanyahu juga menilai keputusan Trump menunda serangan sebagai sebuah kekeliruan. Dia meyakini penundaan hanya akan memberikan keuntungan bagi Iran serta memberi waktu tambahan bagi Teheran memperkuat posisinya.
Trump sebelumnya memberi tahu Netanyahu mengenai rencana AS menyerang Iran. Namun sehari kemudian, Trump mengubah keputusan tersebut usai menerima permintaan dari sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Beberapa sumber pejabat AS dan Israel kepada CNN menyebut Netanyahu sangat kecewa terhadap perubahan sikap Trump. Menurut Netanyahu, AS seharusnya tetap melanjutkan serangan dan tidak memberi ruang bagi Iran.
Sementara itu, dua sumber pejabat negara Teluk kepada Middle East Eye mengatakan penundaan dilakukan karena mempertimbangkan musim haji di Arab Saudi.
Pemerintahan Trump disebut khawatir serangan terhadap Iran pada periode tersebut dapat memicu krisis besar di kawasan.
Trump juga diperingatkan para ajudannya bahwa operasi militer saat musim haji berpotensi menyebabkan ratusan ribu hingga jutaan jemaah telantar. Selain itu, tindakan AS menyerang Iran di tengah musim ibadah umat Islam dinilai dapat semakin memperburuk citra Washington di dunia Muslim.
Seorang pejabat senior AS yang mengetahui pembicaraan internal pemerintahan mengonfirmasi adanya diskusi tersebut. Para pejabat memperingatkan Trump bahwa melanjutkan perang melawan Iran bisa menghancurkan reputasi pemerintahannya di mata banyak negara Muslim.
AS dan Israel sebelumnya pernah melancarkan serangan terhadap Iran saat bulan Ramadhan. Namun kali ini, para pejabat menilai operasi militer pada musim haji akan menciptakan tantangan logistik jauh lebih besar bagi Arab Saudi yang setiap tahun menerima sekitar 1 juta jemaah dari luar negeri.
Dampaknya juga dikhawatirkan meluas ke bandara-bandara utama di kawasan Teluk, termasuk di Qatar dan Uni Emirat Arab, serta mengganggu jalur penerbangan dari negara-negara Asia Selatan dan Asia Timur. Prosesi haji tahun ini dijadwalkan dimulai pada 24 Mei dan berlangsung selama enam hari.










