Anwar Usman usai Pensiun dari MK: Putusan 90 Bukan Pintu untuk Gibran
JAKARTA, iNews.id - Mantan Hakim Konstitusi, Anwar Usman berbicara terkait Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang sempat mengundang polemik dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Dia mengatakan, putusan itu bukan merupakan 'pintu' untuk keponakannya, Gibran Rakabuming Raka yang saat ini menjadi wakil presiden.
Hal ini disampaikan Anwar usai menjalani wisuda purnabakti di Gedung MK, Jakarta, Senin (13/4/2026). Dia menyebut ada kesalahan persepsi publik yang mengaitkan putusan tersebut secara eksklusif dengan sosok Gibran.
Menurutnya, putusan tersebut ditujukan untuk memberikan ruang bagi seluruh anak muda di Indonesia.
"Lho nggak, nggak, nggak itu bukan pintu untuk Gibran. Untuk semua anak muda. Nah itulah kesalahan persepsi," ucap Anwar kepada wartawan.
Anwar menegaskan bahwa putusan tersebut atas dasar keyakinan untuk kebenaran dan keadilan yang dianggapnya sebagai amanah dari Allah.
Dia membantah adanya konflik kepentingan dalam pengambilan putusan tersebut, seraya merujuk pada pernyataan beberapa pihak terkait fakta hukum yang ada.
“Simak juga wawancara (eks hakim konstitusi) Prof. Arief Hidayat di podcast Akbar Faizal. Beliau mengatakan bahwa selama 13 tahun menjadi hakim MK, tidak pernah ada istilah konflik kepentingan dalam pengujian undang-undang,” tuturnya.
Dia pun mengaku lega karena harkat dan martabatnya telah dipulihkan melalui putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Nomor 604 soal polemik Putusan 90/2023. Anwar menilai pemulihan nama baik tersebut adalah hal yang paling utama bagi dirinya.
"Saya plong. Makanya tadi sambutan saya, saya ibarat meninggalkan MK ini seperti bayi, seperti kertas putih tanpa ada catatan," kata dia.
Selain itu, Anwar juga menyinggung kembali isu yang pernah berkembang terkait putusan itu, termasuk tuduhan adanya 'cawe-cawe' yang dinilai tidak berdasar.
Dia berharap publik dapat mencermati kembali berbagai fakta hukum, termasuk putusan PTUN dan putusan MKMK terkait, agar tidak terjebak pada asumsi.
"Yang pasti hari ini saya ibarat bayi baru lahir. Nggak ada beban, nama baik saya, harkat martabat sudah dikembalikan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara," ucap Anwar.
DPR Desak Polisi Usut Tuntas Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS: Ancaman Nyata Demokrasi!
Terkait kekerabatannya dengan Gibran, Anwar menepis anggapan adanya hubungan khusus yang memengaruhi putusannya. Dia mengungkapkan bahwa frekuensi pertemuannya dengan Wakil Presiden tersebut sangat terbatas dan terjadi hanya dalam situasi yang formal atau kekeluargaan.
Anwar menuturkan, pertemuan di antara keduanya bisa dihitung dengan jari, yakni hanya saat momen pernikahan dan pertemuan insidental dalam perjalanan. Selain itu, jika ada acara di Solo, kehadirannya pun tidak selalu bertepatan dengan jadwal Gibran.
"Sampai hari ini, yang namanya Gibran sebagai wapres, baru berapa kali ketemu saya," ujarnya.










