83 Serangan Rudal dan Drone Iran Justru Hantam Negara Teluk, Apa Motif Sebenarnya?
LONDON, iNews.id - Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari, mengagetkan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) karena mereka justru menjadi sasaran pembalasan dari Teheran. Bahkan, mereka mendapat lebih banyak serangan rudal dan drone.
Negara-negara Teluk tidak terlibat dalam serangan mendadak tersebut, bahkan AS dan Israel tidak berkonsultasi lebih dulu kepada mereka. Namun, hanya sehari berselang, pada 1 Maret, enam negara GCC sudah digempur Iran.
Laporan lembaga riset berbasis di Washington, Stimson Center, yang dirilis Rabu lalu menyebut konflik AS-Israel-Iran yang kini memasuki pekan keempat, telah berkembang menjadi perang yang mengerikan dan terus meningkat. Kondisi ini tidak diinginkan oleh satu pun negara-negara teluk.
Parahnya, sejak awal terlihat erangan Iran lebih banyak menyasar infrastruktur sipil, bukan pangkalan militer AS yang diklaim sebagai target utama. Pada hari pertama, rudal Iran atau puing dari sistem pencegat telah menghantam Bandara Dubai, hotel ikonik Burj Al-Arab, Pelabuhan Jebel Ali, hingga kawasan Palm Jumeirah.
Hari itu, Iran meluncurkan 137 rudal dan 209 drone ke Uni Emirat Arab. Serangan itu jelas-jelas merupakan upaya untuk merusak reputasi UEA sebagai pusat pariwisata, bisnis, dan investasi yang aman. Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar juga langsung menjadi sasaran sejak hari-hari pertama perang AS-Israel vs Iran.
Iran memang mengklaim hanya menargetkan fasilitas militer yang terkait dengan AS. Namun dalam hari-hari dan pekan berikutnya, pola serangan terhadap infrastruktur sipil semakin jelas terlihat. Di Arab Saudi, target mencakup kilang minyak Ras Tanura, fasilitas Aramco, hingga ladang minyak Shaybah.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan sejumlah drone yang mengarah ke Riyadh berhasil dicegat.
"Saya baru saja keluar bersama anak kecil saya ketika tiba-tiba terdengar ledakan. Orang-orang di sekitar kami melihat ke langit, mencoba memahami apa yang terjadi. Ini bukan sesuatu yang Anda bayangkan terjadi di Riyadh," kata seorang warga Yordania di Riyadh kepada AFP pada 28 Februari.
Kronologi Pigai dan Uceng Guru Besar UGM Saling Serang di X, Berujung Tantangan Debat di TV
Serangan itu memang di luar dugaan. Bukan hanya bagi warga, tetapi juga pemerintah negara-negara teluk, yang merasa tidak memiliki peran dalam konflik tersebut.
Bahkan, Oman yang sebelumnya memediasi pembicaraan positif antara Iran dan AS sebelum pecahnya konflik, turut menjadi sasaran. Sejak 3 Maret, sejumlah serangan menghantam infrastruktur minyak dan fasilitas sipil di negara itu.
Data terbaru menunjukkan betapa timpangnya beban yang harus ditanggung negara-negara Teluk dalam perang yang tidak mereka mulai dan tidak mereka kehendaki.
Sejak 28 Februari, negara-negara GCC telah menerima 4.391 serangan rudal dan drone Iran. Ini setara 83 persen dari total serangan. Sebaliknya, Israel yang memulai perang dan melancarkan serangan harian ke Iran selama sebulan terakhir, hanya menjadi target 930 rudal dan drone atau sekitar 17 persen dari total.
Ketimpangan ini memunculkan pertanyaan besar, apa sebenarnya motif Iran?
Selama lebih dari empat dekade, Teheran menyebut Israel sebagai "setan kecil" dan secara terbuka menyerukan kehancurannya.
UEA menjadi negara yang paling banyak diserang, dengan total 2.156 serangan. Sebanyak 11 warga dilaporkan tewas, termasuk dua orang yang meninggal akibat tertimpa puing rudal yang berhasil dicegat pada Kamis.
Arab Saudi sejauh ini menghadapi 723 serangan drone dan rudal, dengan dua korban jiwa dan sejumlah korban luka. Sebagian besar serangan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara negara-negara GCC. Selain serangan sporadis drone oleh kelompok Houthi di Yaman, ini merupakan ujian nyata pertama bagi sistem pertahanan kawasan dan sejauh ini dinilai berhasil.
Namun, yang memicu kemarahan pemerintah di kawasan Timur Tengah adalah tujuan di balik serangan yang terus berlangsung.
Direktur Council for Arab-British Understanding, Chris Doyle, menilai klaim Iran yang hanya menyasar target militer tidak dapat dipercaya.
"Sangat jelas bahwa Iran menargetkan bagian penting dari infrastruktur sipil. Jadi klaim itu tidak kredibel," ujar Chris Doyle, dilansir dari Arab News, Jumat (27/3/2026).
Menurut Doyle, tujuan utama Iran adalah bertahan dalam perang yang mereka anggap sebagai perang eksistensi. Mereka ingin sebisa mungkin membuat AS menderita. Dengan keterbatasan kemampuan konvensional dibandingkan AS dan Israel, Iran berupaya memperluas front konflik.
"Iran membuka medan perang yang sangat luas untuk memaksa AS dan sekutunya melindungi berbagai target di 12 negara sekaligus, sekaligus menimbulkan biaya ekonomi," katanya.
Menurut Doyle, strategi itu bertujuan untuk menekan AS agar lebih cepat mencari jalan keluar dan memaksa kembali ke meja perundingan. Dia juga menilai tidak kebetulan jika UEA menjadi target utama.
"Masuk akal jika sebagian alasannya itu karena kedekatan UEA dengan Israel, normalisasi hubungan, serta keterkaitan yang semakin dalam. Iran melihatnya sebagai target yang lebih diwaspadai dibanding negara Teluk lain yang belum ditargetkan pada tingkat sama," ujarnya.
Senada dengannya, Direktur New Lines Institute, Caroline Rose, mengatakan, strategi Iran bertujuan untuk menunjukkan kemampuannya mengguncang stabilitas keamanan negara-negara teluk secara cepat. Strategi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa negara-negara GCC akan segera menekan AS untuk menghentikan serangan dan menjauh dari Israel.
"Namun strategi ini tampaknya justru berbalik arah. Beberapa negara seperti Arab Saudi justru membuka kembali kebijakan yang memungkinkan pasukan AS beroperasi dari wilayah mereka, bahkan ada yang mulai mempertimbangkan ikut dalam perang," kata Rose.
Dewan HAM PBB pada Rabu lalu, telah mengesahkan resolusi yang diajukan negara-negara GCC dan Yordania, yang mengutuk tindakan Iran sebagai pelanggaran berat. GCC juga menuntut kompensasi atas kerusakan dan korban jiwa.
Di hari yang sama, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania dalam pernyataan bersama, mengecam keras serangan Iran. Mereka menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan, integritas wilayah, hukum internasional, hukum humaniter internasional, serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), baik dilakukan secara langsung maupun melalui kelompok proksi.
Pernyataan itu juga menyinggung ancaman lain yang sebelumnya kurang terungkap, yakni aktivitas sel tidur yang loyal kepada Iran serta organisasi yang terkait dengan Hizbullah, yang dinilai mengancam stabilitas kawasan tersebut.
Negara-negara tersebut menegaskan kembali hak penuh mereka untuk membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB, termasuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan, keamanan, dan stabilitas nasional.










