Stok Rudal dan Drone Iran Cukup untuk Serang Israel dan AS Selama Dua Tahun Non-Stop

Stok Rudal dan Drone Iran Cukup untuk Serang Israel dan AS Selama Dua Tahun Non-Stop

Terkini | okezone | Senin, 16 Maret 2026 - 03:05
share

JAKARTA – Perang yang dikobarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran telah memasuki hari ke-14 tanpa tanda-tanda akan berhenti. Serangan yang dilancarkan AS dan Israel dibalas oleh tembakan rudal Iran ke wilayah dan aset-aset penting milik kedua agresor tersebut.

Bahkan di Israel, rudal Iran seakan tak henti-henti menghujani wilayah negara Zionis. Saking banyaknya serangan, sistem pertahanan udara Israel dikabarkan sudah tidak mampu menangkis rudal-rudal Iran dengan pencegat yang jumlahnya kritis dan hampir habis.

Ribuan rudal telah diluncurkan Iran ke berbagai sasaran milik AS dan Israel sejak konflik bermula pada 28 Februari. Washington terus mengatakan bahwa Teheran akan segera kehabisan stok rudal, tetapi nyatanya serangan Iran terus menghantam.

Pasca perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025, pejabat Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan bahwa Iran memiliki kemampuan militer yang cukup untuk menyerang Israel dan fasilitas Amerika Serikat (AS) selama dua tahun non-stop.

"Saat ini, gudang, pangkalan rudal bawah tanah, dan fasilitas yang kami miliki sangat besar sehingga kami belum menunjukkan sebagian besar kemampuan pertahanan dan rudal efektif kami," kata Penasihat Militer IRGC, Mayor Jenderal Ebrahim Jabbari, dalam wawancara dengan kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, pada Juni 2025.

 

"Jika terjadi perang dengan Israel dan AS, fasilitas kami tidak akan habis bahkan jika kami meluncurkan rudal ke mereka setiap hari selama dua tahun."

Jika pernyataan Mayjen Jabbari benar, ini berarti Iran mampu melancarkan serangan ke target Israel dan AS setiap hari selama 24 bulan tanpa henti. Hal ini juga menunjukkan bahwa Iran telah mengantisipasi konflik baru dengan AS dan Israel sejak perang 12 hari tahun lalu.

Perang terbaru ini telah meningkat dan berimbas pada negara-negara lain di kawasan, terutama negara Teluk yang menampung fasilitas militer AS seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Langkah Iran untuk menutup Selat Hormuz juga berdampak besar pada ekonomi global, menyebabkan lonjakan harga minyak hingga menembus USD 100.

Topik Menarik