Kerusuhan di Iran, Korban Tewas Bertambah Jadi 500 Orang
IRAN – Gelombang kerusuhan yang melanda Iran menelan korban jiwa lebih dari 500 orang. Data tersebut disampaikan kelompok hak asasi manusia (HAM) pada Minggu, 11 Januari 2026, di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Amerika Serikat (AS).
Di saat yang sama, pemerintah Iran mengancam akan menyerang pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump merealisasikan ancamannya untuk melakukan intervensi guna membela para demonstran.
Melansir Reuters, Kelompok HAM yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, melaporkan telah memverifikasi kematian 490 pengunjuk rasa dan 48 personel keamanan. Selain itu, lebih dari 10.600 orang dilaporkan ditangkap. Namun, Reuters menyebutkan belum dapat memverifikasi secara independen.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan AS agar tidak melakukan “salah perhitungan”. Dalam pidatonya di parlemen pada Minggu, Qalibaf menegaskan bahwa Iran akan merespons keras jika terjadi serangan terhadap negaranya.
“Jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta seluruh pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kami,” kata Qalibaf, yang juga merupakan mantan komandan elit Garda Revolusi Iran.
Kerusuhan di Iran bermula pada 28 Desember 2025 akibat lonjakan harga-harga, sebelum berkembang menjadi aksi penentangan terhadap rezim ulama yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979. Otoritas Iran menuding AS dan Israel berada di balik aksi tersebut.
Kepala Kepolisian Iran, Ahmad-Reza Radan, menyatakan aparat keamanan telah meningkatkan tindakan untuk menghadapi para perusuh. Arus informasi dari Iran juga terbatas setelah pemerintah memutus akses internet sejak Kamis.
Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan aksi massa besar di Teheran pada malam hari, dengan demonstran meneriakkan yel-yel protes. Sementara itu, di Mashhad, terlihat kebakaran di sejumlah ruas jalan, puing-puing berserakan, serta terdengar suara ledakan.
Di sisi lain, televisi pemerintah Iran menayangkan gambar puluhan kantong jenazah di kantor koroner Teheran. Pemerintah menyebut korban tewas merupakan akibat dari aksi “teroris bersenjata”.










