Rusia Mulai Operasikan Rudal Nuklir Oreshnik, Kirim ke Belarusia

Rusia Mulai Operasikan Rudal Nuklir Oreshnik, Kirim ke Belarusia

Global | inews | Kamis, 1 Januari 2026 - 06:08
share

MOSKOW, iNews.id - Rusia mulai mengoperasikan rudal Oreshnik yang bisa membawa hulu ledak nuklir. Rudal jarak menengah tersebut juga dikirim ke Belarusia. 

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia merilis video kendaraan tempur bagian dari sistem rudal balistik melintasi hutan sebagai bagian dari latihan tempur. 

Presiden Belarusia Alexander Lukashenko pada awal Desember mengatakan, Oreshnik telah tiba di negaranya. Saat itu dia mengatakan 10 sistem rudal akan ditempatkan di Belarusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin, pada kesempatan terpisah, mengatakan Oreshnik akan memulai tugas tempur sebelum akhir tahun. 

Rusia pertama kali menguji coba rudal Oreshnik yang membawa hulu ledak konvensional dengan menyerang fasilitas Ukraina pada November 2024. 

Putin mengatakan, Oreshnik bisa meluncur dengan kecepatan hingga Mach 10 dan tidak dapat dicegat oleh sistem pertahanan udara yang ada saat ini.

Kekuatan hulu ledak konvensional yang dibawa Oreshnik juga sama dahsyatnya dengan serangan nuklir.

Putin juga memperingatkan Barat, Rusia bisa menggunakan Oreshnik untuk menyerang negara-negara yang memasok senjata ke Ukraina.

Media pemerintah Rusia mengungkap, rudal tersebut hanya membutuhkan waktu 11 menit untuk mencapai pangkalan udara Polandia dan 17 menit mencapai markas NATO di Brussels, Belgia.

Sementara itu Kemhan Belarusia menyatakan, Oreshnik memiliki jangkauan hingga 5.000 kilometer.

Rudal jarak menengah terbang antara 500 hingga 5.500 km. Senjata ini sempat dilarang berdasarkan perjanjian era Soviet, namun telah ditinggalkan AS dan Rusia sejak 2019.

Pengumuman pengerahan rudal Oreshnik ini disampaikan saat perundingan perdamaian Rusia-Ukraina memasuki masa kritis. 

Presiden AS Donald Trump, saat menerima kunjungan mitranya dari Ukraina, Volodymyr Zelensky, di Florida, menegaskan Kiev dan Moskow berada dalam posisi lebih dekat menuju penyelesaian perdamaian dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.

Namun, kedua negara masih berbeda pendapat dalam beberapa isu kunci, seperti tuntutan Rusia terhadap empat wilayah Ukraina dan nasib Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia yang kini berada di bawah kendali Rusia.

Trump juga mengatakan, negosiasi yang dipimpin AS selama berbulan-bulan masih bisa gagal.

Topik Menarik