Oknum Anggota TNI AU Didakwa Kasus Penipuan Rekrutmen, Korban Kehilangan Uang Rp260 Juta
Kupang, iNewsTTU.id – Seorang oknum anggota TNI AU, Kopda YP, yang bertugas di Lanud El Tari Kupang, NTT, menjalani persidangan di Pengadilan Militer Kupang terkait dugaan penipuan dalam percakapan rekrutmen anggota TNI AU. Kasus ini melibatkan korban bernama Ucok Nakmofa yang bermimpi menjadi prajurit TNI AU namun harus merugi hingga Rp260 juta.
Dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Mayor Subiiyanto, bersama dua hakim anggota Kapten Arinta Mudji Pranata dan Kapten Zaonal Arifin, terdakwa didakwa dengan dua pasal, yakni Pasal 378 dan Pasal 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan.
Kasus ini bermula pada tahun 2021, saat korban, yang berkeinginan kuat menjadi anggota TNI AU, menemui terdakwa yang juga merupakan tetangga korban. Kopda YP kemudian menjanjikan akan membantu korban lolos menjadi prajurit TNI AU dengan meminta sejumlah uang sebagai biaya pelancaran proses rekrutmen.
Korban pun mengikuti tes seleksi TNI AU beberapa kali namun selalu gagal. Setelah gagal pada tes pertama, terdakwa meminta korban untuk mengikuti tes gelombang kedua dan seterusnya, dengan iming-iming bisa lolos jika memberikan sejumlah uang tambahan.
Korban akhirnya menyerahkan total uang sebesar Rp 260 juta. Namun, meskipun sudah mengikuti tes berkali-kali, korban tetap gagal dan uang yang diserahkan tidak pernah dikembalikan oleh terdakwa.
Merasa tertipu, korban bersama orangtuanya melaporkan kejadian ini ke Polisi Militer TNI AU Lanud El Tari Kupang. Dalam persidangan, Kopda YP tidak membantah dakwaan yang dibacakan oleh Oditur Militer Letkol Alex Panjaitan.
Kaptan Arinta Mudji Pranata, salah satu hakim anggota, menyatakan bahwa persidangan akan dilanjutkan dua pekan mendatang untuk mendalami lebih lanjut kasus ini dan mendengarkan keterangan saksi dari pihak korban.
Kasus ini menjadi perhatian publik, karena melibatkan oknum anggota TNI AU yang diduga memanfaatkan posisi dan kewenangannya untuk melakukan penipuan terhadap seseorang yang ingin bergabung dengan TNI AU. Kejadian ini pun mengingatkan pentingnya transparansi dan integritas dalam proses rekrutmen di institusi militer.









